Page 118 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 118
Aspek humor tiap-tiap praktik kolektif pun beragam. Ia bisa menjadi
sebuah bercandaan internal, dagelan, guyon, lelucon satu baris, meme, 97
sketsa, satir, sarkasme, sitkom, komedi gelap, komedi pengamatan,
hingga komedi penghinaan diri (self deprecation) dalam mengkritik
atau menyajikan ulang praktik kesenian dan praktik institusi sebagai
program kolektif. Sebagai contoh, lihat saja Forum Semangka, yang
diadakan Hysteria karena konsumsi yang mampu mereka sediakan
Untuk dibaca bersama
setiap menyelenggarakan diskusi seni adalah buah semangka,
supaya makanan dan minuman tergabung menjadi satu. Atau Dinas
Artistik Kota oleh Serrum, yang memplesetkan rompi atribut dinas
pemerintahan agar dikira resmi oleh petugas pengamanan yang
beredar ketika mereka membuat mural di jalan. Dari itu semua, cara
pandang lain yang bisa kita gunakan untuk memahami praktik artistik
kolektif seni di Indonesia adalah melihat kejenakaannya secara seni.
Praktik-praktik artistik kolektif ini menantang kita untuk memperluas
kesadaran kita dalam memahami seni. Sebab, kepekaan yang
dibutuhkan ada di luar kanon pemahaman seni yang modernis, yang
secara ajaib justru menjadi pengertian seni yang populer. Pembaca
mungkin merasakan atau mengamati betapa repot, berantakan dan
tidak efisiennya bekerja sebagai kolektif seni. Namun, tetap saja
praktik ini subur dan akan terus menggelora, berkebalikan dari ide
efisiensi dan individualisme dari bayang-bayang industri seni yang
mapan. Maka itu, pekerjaan ini sepertinya bukanlah sesuatu yang bisa
dilakukan secara berurutan atau sistematis a la kanon riset akademis,
namun melompat-lompat, saling-silang dan dikerjakan secara intuitif,
layaknya jalinan anyaman pada bakul. Mengutip peribahasa Batak
Mandailing, Suangkon parlus lus ni ampangdo marlumpat-lumpat sada
martading- tading dua. Seperti keringnya ampang (bakul) melompati
17
satu persatu meninggalkan dua bagian.
17 Bakul anyaman kayu dalam tradisi Batak, yang multifungsi, dari untuk penyimpanan kebutuhan dapur
hingga sebagai seserahan pada perkawinan. Ia melambangkan kasih, damai, suka cita dan harapan
Gesyada Siregar

