Page 160 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 160
dalam maupun luar negeri. Sebagai contoh, ada Maman Sudirman,
Kepala Dusun Wates, yang turut serta dalam pameran 2017 Asian Art 139
Biennial di National Taiwan Museum of Fine Arts, Taiwan. Ada pula
Andri Meghan, seorang pengusaha muda berbakat, yang mewakili JaF
dalam Singapore Biennale 2019: “Every Step in the Right Direction.”
Lalu, ada pedagang genteng sekaligus mantan Kepala Dusun Burujul
Wetan, Ila Syukrillah Syarief, yang berangkat dan mengerjakan
Kebudayaan menemani minum teh lahir dari sini: Belajar dan ma
pameran “Looking For Another Family” di National Museum of Modern
and Contemporary Art Seoul, Korea Selatan. Selain mereka, ada juga
beberapa teman lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
Untuk dibaca bersa
latihan untuk tahan sedemikian rupa menemani minum teh,
ngopi, ngawangkong, meluangkan waktu ngobrol ngalor-ngidul,
mendengarkan curhatan baik warga, pemerintah maupun komunitas,
hingga secara tidak sadar JaF menyusupkan dan menitipkan pikiran-
pikirannya lewat segenap obrolan yang tampak remeh-temeh. Pikiran
seperti apakah yang dititipkan JaF? Irwan Ahmett, seorang desainer
grafis dan seniman yang dikenal dengan aneka kesegaran intervensi
dalam sejumlah karyanya, pernah menulis dalam buku 10 Strategi
Imunisasi Budaya, “JaF itu ‘menjerumuskan ke jalan yang benar’,
mengontrol kegalauan, menertawakan hidup, dan menciptakan
modus-modus.”
Sementara itu, penggagas dan pendiri JaF, Arief Yudi Rahman, pada
setiap kesempatan sering meyakinkan, “Sejak awal, kita sudah
menyadari bahwa soal rezeki untuk bertahan hidup, sudah ada yang
menanggungnya. Yang belum ada rezekinya adalah soal pengetahuan,
kesadaran, kepahaman, penghayatan, keindahan. Itu harus usaha
sendiri. Ketika kita berangkat dari penghayatan, hasilnya akan bisa
dibagikan lagi. Nah, itu baru ekonomi. Ketika pemerintah selalu
ngomongin dengan ukuran peningkatan daya beli dan seberapa besar
yang kita konsumsi, akan sampai di mana ujungnya? Sementara kita
sedang ngomongin penghayatan dan keselarasan. Jika kita bicara
tentang ekonomi, justru ini malah memperlambat pembangunan.”
Arie Syarifuddin

