Page 348 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 348
landasan ekonomi awal, yang akhirnya berpengaruh dalam
membangun keleluasaan berorganisasi. Kapasitas yang dimungkinkan 327
oleh kepemilikan rumah menjadi tujuan dan proyeksi dari kerja
masa depan. Dalam keadaan ketika akses dana budaya terasa
tidak pasti, kepemilikan rumah yang bisa bebas digunakan terasa
sebagai sesuatu yang melegakan. Hal tersebut memperkuat rasa
independensi dalam membayangkan orientasi kerja. Mengikuti
23
Untuk dibaca bersama
Maria Mies, kepemilikan atas ruang menjadi modal untuk membangun
‘survival subsistence perspective,’ yang ditujukan untuk membangun
“kemandirian dan keamanan daya dukung, yang diarahkan untuk
menjadi lebih independen secara ekologis, sosial, dan ekonomis,
dan tidak lagi bergantung pada kekuatan pasar eksternal.” Dalam
24
konteks politik Indonesia, konsep self-reliance atau kemandirian dari
Mies beresonansi secara kuat dengan konsep “berdiri di atas kaki
sendiri” (berdikari) dari Sukarno. Dalam wacana sehari-hari, berdikari
menjadi ekspresi biasa untuk menyatakan hasrat meraih otonomi
ekonomi secara luas. Amiruddin Al Rahab menganalisa peletakan
konsep berdikari dalam kebijakan ekonomi Sukarno dalam periode
Demokrasi Terpimpin pada 1959. Menurut Al Rabah, pengaplikasian
25
berdikari merupakan bagian dari usaha bangsa untuk menciptakan
fondasi ekonomi yang kuat di awal kemerdekaan. Kekuatan fondasi
tidak hanya ada pada potensi sumber daya alam Indonesia, tapi juga
kehendak untuk fokus pada kesejahteraan banyak orang, dan tidak
didikte oleh kuasa ekonomi asing.
Di bagian sebelumnya, saya mengemukakan pengamatan bahwa
pada periode awal 2000-an, keberhasilan untuk mendapatkan dana
budaya dari organisasi dana lokal dan internasional dipandang
sebagai sesuatu yang ideal. Perolehan dana dari luar negeri dianggap
menunjukkan pengakuan atas nilai penting dari suatu inisiatif.
23 Sebagai contoh lain, Yuli Andari Merdikaningtyas, inisiator Sumbawa Cinema Society di Sumbawa
Besar (Nusa Tenggara Barat), juga menceritakan rencana masa depan dimana sekretariat, studio, dan
perpustakaan kajian film akan didirikan di tanah kebun milik ayahnya. Selain soal kepercayaan dan
niat baik dari keluarga, hal ini juga didasari dari keinginan untuk bebas dari kewajiban untuk harus
selalu mengusahakan biaya yang tidak sedikit untuk rumah kontrakan.
24 Maria Mies, “The Need for a New Vision: the Subsistence Perspective,” dalam Ecofeminism, ed. Maria
Mies, Vandana Shiva (London & New York: Zed Books, 2014), hlm. 312.
25 Amiruddin Al Rahab, Ekonomi Berdikari Sukarno (Jakarta: Komunitas Bambu, 2014).
Nuraini Juliastuti

