Page 346 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 346

masyarakat urban. Dalam keseharian, rumah ini lebih menyerupai
              tempat para anggota dan keragaman jaringan pertemanan berkumpul   325
              dan berbagi gagasan. Bagi mereka yang aktif di dalamnya, nongkrong
              di Kerjasama 59 adalah bagian dari proses untuk belajar banyak hal.


              Di bagian ini saya ingin menunjukkan bagaimana karakter organik dari
              cara kerja mereka yang bergiat di rumah ini melahirkan keleluasaan
               Untuk dibaca bersama
              untuk membuat beragam kegiatan yang diproyeksikan untuk mencapai
              kemandirian. Kegiatan-kegiatan ini tampak tidak terlalu dibebani
              dengan dan bahkan lepas dari target-target programatik. Ia dijalankan
              dengan santai dan bergerak mengikuti ritme kebutuhan yang ada.


              Dinamika yang tercipta dari iklim pergaulan sehari-hari di rumah ini
              membuahkan inisiatif-inisiatif independen lain yang terbentuk secara
              organik. Belang Telon Initiative dan Pawon’e Arek-arek merupakan
              beberapa contohnya. Belang Telon Initiative merupakan kolektif film,
              sementara Pawon’e Arek-arek adalah sebuah dapur kolektif yang
              bertujuan untuk memenuhi kebutuhan makan beragam komunitas
              yang rentan selama pandemi. Rumah ini juga berkembang menjadi
              tempat banyak orang mencoba mempraktikkan ide bisnis dalam skala
              kecil seperti pengelolaan warung kopi dan toko merchandise. Saat
              tulisan ini ditulis, terdapat bisnis lain yang berusaha dikembangkan,
              yaitu toko tembakau. Pawon’e Arek-Arek bergantung dari donasi.
              Aktivitas yang dijalankan dari rumah ini sebagian besar tidak
              mempunyai sandaran finansial tetap.


              Kelahiran kebun Humatera didasari pemikiran sederhana untuk
              memanfaatkan secara maksimal semua hal yang dimiliki dan tersedia
              untuk dipakai. Menurut Cahyo Prayogo (Yoyo), sebelum dijadikan
              kebun, kondisi atap terbengkalai dan dipenuhi beragam barang yang
              tak terpakai lagi. Para pegiat rumah yang juga tinggal di dalamnya
              juga memasak untuk kebutuhan sendiri. Gagasan membangun kebun
              berawal dari keinginan untuk bisa mencukupi kebutuhan makan secara
              rutin, yang diharapkan bisa mengurangi ongkos belanja sehari-hari.



                                                                 Nuraini Juliastuti
   341   342   343   344   345   346   347   348   349   350   351