Page 214 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 214
tergabung dalam Komunitas Blogger NTT-Flobamorata. Ia memang Sebelum Lakoat.Kujawas, bersama beberapa teman lintas komunitas
aktif menulis dan juga dikenal sebagai sastrawan. Melalui komunitas dari Timor Tengah Selatan, Dicky Senda juga menginisiasi aksi solidaritas 193
tersebut, ia pun terhubung dan terlibat dalam aktivitas beberapa bagi para korban letusan Gunung Rokatenda, yaitu Forum SoE Peduli
komunitas lain di Kupang seperti Dusun Flobamora, sebuah komunitas (2013). Berbagai pengalaman itulah yang mendorong Dicky untuk
sastra; Kupang Bagarak, sebuah komunitas sukarelawan yang mendirikan Lakoat.Kujawas saat ia kembali ke kampung halaman.
terbentuk setelah letusan Gunung Rokatenda di Flores; dan Komunitas
Film Kupang (KFK). Pengalaman berkesenian Dicky juga terbangun Pada laman blog mereka, Lakoat.Kujawas mendefinisikan diri sebagai,
Untuk dibaca bersama
melalui beberapa program residensi yang ia ikuti. Salah satunya “...sebuah komunitas kewirausahaan sosial anak muda yang bergerak
adalah residensi di Bumi Pemuda Rahayu, sentra pembelajaran di bidang seni budaya.” Meski demikian, Lakoat.Kujawas justru
arsitektur, urbanisme dan seni di Bantul, Yogyakarta. mengawali kerja kolektif mereka dengan menyediakan perpustakaan
bagi anak-anak di Desa Taiftob, Mollo Utara. Namun, jika pada awalnya
perhatian utama mereka tertuju pada kegiatan literasi, maka saat
ini ragam kegiatan mereka menyentuh pada aktivitas kebudayaan
yang lebih luas. Sebagian program Lakoat.Kujawas berpijak pada
usaha pengarsipan pengetahuan lokal (sejarah dan seni budaya),
yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan untuk membangun basis
ekonomi kreatif berupa ekowisata, heritage trail dan tur gastronomi
lokal. Kini, mereka mengembangkan juga bentuk sekolah budaya atau
sekolah adat dengan model pendidikan kritis dan kontekstual, serta
menyediakan ruang residensi bagi seniman yang ingin belajar bersama
warga Mollo.
Satu hal yang perlu digarisbawahi dari bentuk aktivitas Lakoat.
Kujawas adalah bahwa, dalam berbagai kegiatan pengembangan
pengetahuan yang mereka buat, warga setempat tidak difasilitasi
oleh orang luar, tetapi oleh tetangga mereka sendiri. Bentuk kegiatan
yang dikembangkan oleh Lakoat.Kujawas bukanlah sejenis “program
penyadaran” a la NGO yang sering hanya bersifat jangka pendek dan
terbatas pada agenda tertentu, melainkan program belajar bersama
secara berkelanjutan yang dikembangkan oleh masyarakat untuk
masyarakat sendiri. Contohnya, penyelenggaraan kelas menulis
kreatif To the Lighthouse yang mengangkat tema pangan lokal.
Gambar 2. Dicky Senda, pendiri Lakoat.Kujawas, bersama anak-anak Mollo, Peserta kelas yang terdiri atas remaja dan anak muda diminta untuk
anggota Lakoat.Kujawas. mendokumentasikan dan melakukan wawancara dengan para tetua
Lokasi: Desa Taiftob, Mollo Utara (2018).
Sumber: Armin Septiexan. mengenai pangan lokal. Hasilnya dipresentasikan dalam bentuk
Simbiosis Mutualisme Lakoat.Kujawas dan Mollo Berto Tukan & Ayos Purwoaji

