Page 221 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 221

200  Sementara itu, sebagai sebuah kolektif yang memiliki perhatian pada
             bidang literasi, Lakoat.Kujawas pun telah menerbitkan sejumlah buku,
             antara lain Tanda Salib di Rumah Sang Klerk, buku tentang sejarah kecil
             gereja Katolik di Pegunungan Mollo (2017); Dongeng dari Kap Na’m
             To Fen, kumpulan cerpen anak hasil kelas menulis To the Lighthouse
             (2018); Tubuhku Batu, Rumahku Bulan, kumpulan puisi hasil lokakarya
             kelas menulis To the Lighthouse bertema “batu” (2019); Ketika Malam
               Untuk dibaca bersama
             Semakin Larut, kumpulan puisi anak-anak dari kelas menulis To the
             Lighthouse yang berkolaborasi dengan Seniman Residen Komite
             Buku Nasional, Royyan Julian (2019); Dongeng dari Nunuh Haumeni,
             kumpulan cerpen hasil lokakarya kelas menulis To the Lighthouse
             bertema “pohon” (2020).


             Seluruh buku yang telah diterbitkan tersebut memuat narasi mengenai
             kekayaan sumber daya Mollo. “Salah satunya buku mengenai batu
             yang mencatat berbagai folklore dan mitos yang dimiliki masyarakat
             Mollo terhadap batu, karena setiap keluarga memiliki ikatan terhadap
             jenis-jenis batu tertentu,” kata Dicky. Penerbitan buku-buku tersebut
             adalah upaya Lakoat.Kujawas dalam merespons sejumlah persoalan
             sosial setempat, yang beberapa di antaranya berkaitan dengan
             pendidikan alternatif untuk masyarakat adat, perdagangan manusia,2
             migrasi ke kota, balita pendek (stunting), malnutrisi, dan krisis pangan
             akibat perubahan iklim.

             Harapan mereka, ekowisata dan tumbuhnya produk lokal di
             Mollo dapat mendukung ekonomi warga serta mengurangi angka
             perpindahan penduduk dan kasus perdagangan manusia, sedangkan
             penerbitan bacaan bermuatan lokal dapat menopang pendidikan
             alternatif untuk masyarakat adat. Di kemudian hari, dengan modal
             pengetahuan mengenai sumber daya dan sumber pangan setempat
             yang terdokumentasikan, masyarakat dapat berperan dalam
             menjawab berbagai permasalahan sosial yang ada.



             2  Menurut data Bareskrim Polri, angka kasus perdagangan manusia dari NTT pernah menjadi yang
             tertinggi di Indonesia (Everd Scor Rider Daniel, Nandang Mulyana, Budhi Wibawa, “Human Trafficking
             di Nusa Tenggara Timur,” dalam Social Work Journal, Vol. 7 No. 1/2017).
             Simbiosis Mutualisme Lakoat.Kujawas dan Mollo
   216   217   218   219   220   221   222   223   224   225   226