Page 225 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 225
204 asirputih diinisiasi pada 29 Desember 2009 oleh beberapa
anak muda Lombok Utara dari berbagai latar belakang.
7 Januari 2010, Pasirputih sudah memiliki logo dan
P struktur sederhana, dan Muhammad Gozali diamanahkan
sebagai ketua sementara anggota lain adalah partisipan.
Berdirinya Pasirputih tidak bisa dilepaskan dari peran Forum Lenteng,
Untuk dibaca bersama
Jakarta, lewat program akumassa, sebuah program pemberdayaan
media berbasis komunitas. Saat itu, anak-anak muda di Pemenang,
Lombok Utara, memang sedang senang berkumpul, berlatih teater,
membuat film fiksi pendek, serta aktif dalam kegiatan sosial-
kemasyarakatan dan berbagai kegiatan bersama lainnya. Kedatangan
program akumassa saat itu disambut dengan baik, karena menurut
Gozali, ada beberapa hal yang membuat anak-anak muda (para
pendiri awal Pasirputih) termotivasi, karena (1) Ada peluang untuk
belajar lebih banyak tentang teknologi video-film yang saat itu
tengah digandrungi anak-anak muda di Pemenang; (2) ada peluang
untuk mengembangkan kemampuan menulis; dan yang terpenting
(3) ada peluang besar untuk berjejaring dengan kawan-kawan dari
komunitas di luar Lombok. Pada saat itu, anak-anak muda Lombok
sulit membangun jaringan di luar, karena bayang-bayang tokoh senior,
hegemoni institusi kebudayaan, dan/atau sentralitas ruang kesenian. 1
Akumassa dibayangkan akan menjadi jendela baru bagi anak-anak
muda tersebut untuk melebarkan pengetahuan dan pergaulan di
wilayah kebudayaan yang lebih luas.
Namun pertanyaannya: Apakah semua motivasi yang dibayangkan
oleh kawan-kawan saat itu terwujud, lalu bagaimana
mewujudkannya? Apa yang terjadi setelah program akumassa selesai?
Bagaimana Pasirputih berjalan selepas itu dan bagaimana ia bertahan
hingga sekarang?
1 Wawancara Muhammad Gozali (29 September 2020).
Cerita dari Pasirputih

