Page 249 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 249

228           ersama rumah, lumbung adalah fitur utama sistem
                       pengetahuan masyarakat perdesaan Nusantara. Sebagai
                       sistem pengetahuan, lumbung tidak hanya difungsikan
             Bsebagai tempat penyimpanan padi melainkan juga sebagai
             tempat ritus-ritus sosial dan harian dilangsungkan. Di samping itu,
             penting untuk menempatkan lumbung sebagaimana halnya rumah,
             yaitu entitas budaya yang  memiliki kapasitas untuk memberikan
               Untuk dibaca bersama
             kontinuitas sosial. Lévi-Strauss mengungkapkan, lumbung
                             1
             merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya masyarakat berbasis
             rumah (house societies), sebagaimana juga diyakini oleh masyarakat
             yang menekankan pentingnya budaya pertanian. 2


             Dengan kata lain, lumbung menjadi tempat untuk mengingat dan
             menghubungkan rentang kesinambungan tertentu dengan masa lalu.
             Dalam hal ini, lumbung berfungsi sebagai tempat persambungan
             kosmis dengan leluhur maupun dewi padi. Bahkan, lumbung dikatakan
             sebagai tempat peristirahatan bagi arwah-arwah, setelah berbulan-
             bulan di ladang menahan teriknya matahari. Bagi masyarakat Kanekes,
             Banten, misalnya, lumbung adalah tempat berteduhnya Dewi Padi,
             Nyi Pohaci, setelah padi ditanam di ladang selama berbulan-bulan.   3
             Demikian juga halnya dengan petani Bali, yang memanen padi dengan
             sangat hati-hati agar biji-biji padi tidak terjatuh satu pun ke tanah
             dan tertinggal dengan saudaranya yang lain. Jika itu terjadi, biji-
             biji padi tersebut akan bersedih hati karena mereka akan berpisah
             untuk selamanya. Selain itu, karena roh Dewi Sri sudah turun dan
             masuk ke dalam biji-biji padi,  padi yang dibawa menuju lumbung
                                      4
             harus dimanjakan agar tidak kesal. Sementara itu, lumbung bagi
             masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, adalah tempat pemujaan roh


             1  James J. Fox, “Comparative Perspectives on Austronesian Houses: An Introductory Essay,” dalam
             Inside Austronesian Houses: Perspectives on Domestic Designs for Living, ed. James J. Fox (Canberra: ANU
             E Press, 2006).
             2  Roxana Waterson, “Houses and the Built Environment in Island South-East Asia: Tracing some shared
             themes in the uses of space,” dalam, Inside Austronesian Houses: Perspectives on Domestic Designs for Living,
             ed. James J. Fox (Canberra: ANU E Press, 2006), hlm. 230.
             3 Robert Wessing, Bart Barendregt, “Centred on the source: Hamlets and houses of Kanekes (Baduy)”
             dalam Indonesian Houses: Volume 2: Survey of Vernacular Architecture in Western Indonesia, ed. R.
             Schefold, Peter J.M. Nas (Leiden: KITLV Press & Brill, 2008).
             4  N.C. van Setten van der Meer, Sawah Cultivation in Ancient Java: Aspects of Development during the Indo-
             Javanese Period, 5th to 15th Century (Canberra: ANU Press, 1979).
             Lumbung: Berbagi Daya, Berbagi Kuasa
   244   245   246   247   248   249   250   251   252   253   254