Page 251 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 251

230  perempuan, sementara ruang bawahnya merupakan domain laki-
             laki. Dalam pemahaman terkait asosiasi gender di Batak Toba, sopo
             dipertentangkan dengan ruma (rumah), yang diklasifikasikan sebagai
             perempuan. Meskipun bertentangan, secara simbolis keduanya
             saling melengkapi dan saling bergantung. Asosiasi pertentangan ini
             penting untuk memproses hubungan dialektis yang mengundang
             kehidupan, dan sifat pertentangan itu dipandang secara positif bagi
               Untuk dibaca bersama
             dunia orang hidup.  Pada aras ini, lumbung diasosiasikan sebagai daya
                             8
             pendauran-hidup yang dimiliki dewa padi, yang terungkap pada panen
             setiap tahun. Dengan demikian, lumbung adalah siklus rotasi antara
             orang mati dan persiapan kelahiran kembali. Dalam hal ini, dapat
             dipahami mengapa lumbung juga berisi benda-benda pusaka yang
             menghubungkan antara orang-orang yang masih hidup dengan arwah
             leluhur beserta dewa-dewa lainnya. Mereka semuanya tinggal satu
             rumah atau setidaknya tinggal di kompleks rumah yang sama. Arwah
             leluhur dan dewa-dewa inilah yang memastikan kesinambungan antara
             kesuburan lahan dan siklus reproduktif manusia. 9


             Ruang Bersama di Lumbung
             Sebagaimana sudah sempat disinggung di atas, lumbung sebagai
             gagasan sumber kehidupan berfungsi sebagai titik pijak untuk
             memperbanyak simpul jaringan kehidupan dan reproduksi kelompok
             sosial. Selain penuh ungkapan simbolis dan kosmis, lumbung
             menampilkan hubungan-hubungan sosial, pembagian kerja antara
             laki-laki dan perempuan, pertemuan-pertemuan, dan segala hal
             yang berhubungan dengan denyut kehidupan sehari-hari. Misalnya,
             lumbung umumnya mempunyai balai-balai di bagian bawahnya, yang
             dipergunakan sebagai tempat pertemuan untuk membicarakan hal-hal
             penting terkait komunitas kampung seperti penjadwalan menanam,
             panen, pengaturan irigasi, kelahiran, kematian; tempat menerima

             8  Gaudenz Domenig, “Inverted Posts for the Granary: Opposition and Reversal in  Toba Batak
             architecture,” dalam The House in Southeast Asia: A Changing Social, Economic and Political Domain (NIAS
             Studies in Asian Topics No. 28), ed. Stephen Sparkes (London, New York: Signe Howell, RoutledgeCurzon,
             2003), hlm. 204, 209.
               Koji Sato, “Menghuni Lumbung: Beberapa Pertimbangan Mengenai Asal-Usul Konstruksi Rumah
             9
             Panggung di Kepulauan Pasifik,” dalam Antropologi Indonesia 49 (1991), hlm. 31-47; Roxana Waterson,
             The Living House: An Anthropology of Architecture in South-East Asia (Singapore: Oxford University
             Press, 1990).
             Lumbung: Berbagi Daya, Berbagi Kuasa
   246   247   248   249   250   251   252   253   254   255   256