Page 255 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 255
234 Lumbung sebagai Fitur the Commons
Dalam proses kesinambungan ekologi di masyarakat petani, lumbung
menempati posisi penting karena berhubungan dengan siklus
kehidupan. Dalam topologi masyarakat lumbung, pusat kehidupan
adalah padi. Sebagai makanan pokok, padi menyediakan asupan
energi yang penting untuk melanjutkan hidup. Oleh karena itu, wajar
sekali apabila dalam masyarakat yang bergantung pada budi-daya
Untuk dibaca bersama
padi, banyak kegiatan budaya terpusat pada lumbung, tempat dewa
padi dipuja. Dalam hal ini, ritus pemujaan dewa padi bersama
11
praktik-praktik ruang keseharian lainnya di lumbung merupakan
pendauran hidup berdasarkan daur ekologi yang sangat spesifik.
Pendauran ini memerlukan penataan aspek material dan spiritual,
yang berhubungan secara dialektis. Masyarakat dengan budidaya
pertanian tak terlepas dari sistem pengetahuan (cognitive system)
mereka dan pengaturan diperlukan untuk menjaga keberlangsungan
sumber-sumber pangan. Keberlangsungan ini perlu dijaga, ditata, dan
dikelola karena adanya keterbatasan sumber ekologis dan layanan
alam. Seperangkat sistem pengetahuan yang Dobrowolski catat
sebagai ‘wise-sayings’ ini terbentuk dari pengalaman, kemampuan
resepsi, dan persepsi pendengaran dan visual. Dobrowolski
12
melanjutkan bahwa sistem pengetahuan yang dimiliki masyarakat
petani ini memang ditransmisikan secara lisan dan melalui gambar-
gambar. Singkatnya, transmisi dalam bentuk auditorial dan visual
memungkinkan pengetahuan diserap dengan ketepatan yang lebih
besar. Ini termasuk, di atas segalanya, formula linguistik yang tersusun
rapi dan sangat ekspresif, dalam gubahan sajak-sajak berisi analisis
dan pengumuman meteorologis, fakta-fakta tentang kondisi iklim,
informasi terkait pertanian dan peternakan, pengajaran agama
dan moral, serta keseluruhan pengalaman. Banyak dari rumusan
pengetahuan ini kemudian dikategorikan sebagai peribahasa. Dalam
kasus masyarakat lumbung, contoh dari formula wise-sayings di
komunitas petani Jawa adalah pedoman Pranata Mangsa, yang
11 Sato, ibid.
12 Kazimiers Dobrowolski, “Peasant Traditional Culture,” dalam Peasant and Peasant Societies (Harmondsworth,
Middlesex, England: Penguin Education, Penguin Books Ltd., 1975).
Lumbung: Berbagi Daya, Berbagi Kuasa

