Page 333 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 333
312 ini merujuk pada penggambaran populer seniman sebagai parasit.
Penggambaran tersebut menunjukkan posisi rentan organisasi seni
terkait sustainabilitas produksi artistik dan kesejahteraan hidup
sebagai produser budaya. Deskripsi proyek ini menyebutkan bahwa
Parasite Lottery juga dimaksudkan untuk “melakukan intervensi
dalam pengontrolan ekonomi produksi artistik.”
Untuk dibaca bersama
Masa sulit sering datang secara tak terduga. Ia membawa serta
perasaan rapuh. Tidak semua orang mempunyai keuntungan berada di
posisi ketika keberadaan sumberdaya itu berlimpah atau mempunyai
kekayaan jaringan yang bisa dijadikan gantungan. Dan, tidak ada yang
lebih mengerikan daripada mempunyai tanggungan hutang. Ketakutan
terhadap hutang itu sangat kuat. Penelitian David Henley menyebutkan
bahwa kredit dan hutang mempunyai sejarah panjang di Asia Tenggara.
Mereka membentuk struktur sosial di banyak lapisan. Ia menarasikan
17
kekuasaan kreditor dan keterbatasan dari mereka yang berhutang.
Arisan muncul sebagai institusi pendukung yang berasal dari wilayah
yang familiar sekaligus mekanisme yang menawarkan kepastian bahwa
setiap orang akan mampu mendukung kebutuhannya sendiri. Jan
Newberry mendefinisikan arisan sebagai lotre kredit bulanan dan bagian
dari ritual dan aturan masyarakat Jawa. Hanna Papanek dan Laurel
18
Schwede membaca arisan sebagai bagian dari strategi perempuan untuk
membantu menangani beban ekonomi keluarga. Lebih jauh, mereka
memandangnya sebagai bagian dari keputusan sadar perempuan untuk
secara aktif terlibat dalam pencarian dan pengelolaan nafkah keluarga.
19
Para anggota arisan biasanya merujuk arisan sebagai mekanisme untuk
menabung—dengan cara yang agak dipaksa. Penelitian Clifford Geertz
menyebut bagaimana arisan lebih difungsikan sebagai institusi ekonomi
dari institusi sosial yang tersebar. 20
17 David Henley, “Credit and Debt in Indonesian History: Introduction,” dalam Credit and Debt in
Indonesia, 860-1930: From Peonage to Pawnshop, From Kongsi to Cooperative, ed. David Henley dan Peter
Boomgaard (Singapore dan Leiden: ISEAS/KITLV Press, 2009), hlm. 1-40.
Jan Newberry, “Rituals of Rule in the Administered Community: The Javanese Selametan
18
Reconsidered,” dalam Modern Asian Studies 41, No. 6 (2007), hlm. 1295-1329.
Hanna Papanek, Laurel Schwede, “Women are Good with Money: Earning and Managing in an
19
Indonesian City,” dalam Economic and Political Weekly, Vol. 23, Issue No. 44 (1988), hlm. WS-73-WS-84.
20 Clifford Geertz, “The Rotating Credit Association: A ‘Middle Rung’ Development,” dalam Modern
Asian Studies, Vol. 25, Issue No. 2 (1991), hlm. 246.
Seni Hidup: Praktik Eksperimen Strategi Pertahanan Hidup Mandiri dalam Ruang Seni Budaya Independen

