Page 337 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 337

316  saya mengamati gagasan pendirian kafe, warung, bisnis makanan
             untuk mendukung operasionalisasi galeri, ruang seni dan keluarga
             mendapat tekanan nilai penting, terutama selama pandemi. Pendirian
             warung atau bisnis makanan merefleksikan keinginan ideal untuk
             mendapatkan dana segar secara rutin melalui mekanisme yang bisa
             dikelola secara mandiri. Dalam pembicaraan kami tentang warung
             tahun lalu, Wok dan Dina mengatakan bahwa mengelola warung
               Untuk dibaca bersama
             mendorong mereka untuk merefleksikan lebih jauh tentang makna
             dukungan bagi seni. Apa artinya menjadi seniman penuh dan seniman
             paruh waktu? Apakah membuat karya seni dipandang sebagai sesuatu
             yang mendukung hidup? Ataukah kita harus merumuskannya dengan
             kerangka yang berbeda—bahwa kita hidup untuk mendukung seni?

             Tenaga Perempuan dan Sistem Pendukung yang
             tak Tampak
             Di bagian ini, saya mendiskusikan tentang sumber daya di wilayah-
             wilayah yang berlokasi jauh di dalam institusi seni dan pameran
             karya seni di dinding galeri. Saya memikirkan tentang mereka
             yang menghabiskan waktu dan menguras tenaga untuk membantu
             memproduksi sesuatu yang didefinisikan sebagai seni. Mereka bukan
             seniman, tapi mempunyai banyak label melekat, sesuai pekerjaan
             yang dijalankan. Label-label tersebut antara lain adalah asisten
             seniman, pekerja paruh waktu, manajer seni, asisten galeri, manajer
             operasional, manajer program dan pekerja seni. Mereka bekerja
             untuk mengelola orang, tempat dan semua hal yang terkait dengan
             seni. Untuk mengilustrasikan hal ini, saya akan mendiskusikan PR
             Seni (Pengelolaan Ruang Seni) dan Shifting Realities. Praktik kerja PR
             Seni dan Shifting Realities memberi pandangan lain tentang aspek
             dalam wilayah seni budaya yang harus dikerjakan. Bekerja dalam seni
             budaya bukan hanya soal bagaimana caranya mencari dana untuk
             produksi karya, menempuh pendidikan lanjutan atau hidup cukup dan
             bisa makan setiap hari.  Kemunculan PR Seni dan Shifting Realities
             merupakan pengingat tentang tulang punggung infrastruktur seni
             budaya yang berpusat pada sumber daya manusia dan segala jenis
             kerja yang tidak selalu bisa dikonversi dalam angka.

             Seni Hidup:  Praktik Eksperimen Strategi Pertahanan Hidup Mandiri  dalam Ruang Seni Budaya Independen
   332   333   334   335   336   337   338   339   340   341   342