Page 328 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 328

Terdapat pemahaman bahwa untuk bisa terlibat dalam proyek
              budaya, kebutuhan dasar harus dipenuhi terlebih dulu. Diskusi   307
              tentang kepemilikan sumber daya finansial, segala materi yang
              berguna dan aset-aset lain seringkali dibatasi pada kehidupan para
              seniman dan aktivisme budaya yang rentan. Dalam pembicaraan
              sehari-hari, kerentanan ini muncul dalam beragam solusi akrobatik
              dalam hal keuangan seperti “palugada” (apa lu mau, gua ada) dan
               Untuk dibaca bersama
              “mulur mungkret” (Jawa: kemampuan untuk bergerak memendek dan
              memanjang sesuai keadaan). Tetapi, imajinasi keuangan ini sering
              dianggap terpisah dari pengorganisasian aktivitas budaya itu sendiri.
              Selain itu, pengorganisasian budaya juga kerap bergantung pada
              keberadaan infrastruktur informal, yang kerap diterima begitu saja
              sebagai sesuatu yang melayani kepentingan tanpa disertai dengan
              rasa timbal balik untuk merawatnya.

              Diskusi tentang sustainabilitas di tulisan ini juga terhubung dengan
              manusia yang berfungsi sebagai semacam infrastruktur. Manusia
              kerap berfungsi sebagai sumber daya yang menyediakan bantuan dan
              dukungan untuk proyek budaya. Abdoumaliq Simoné mengajukan
              gagasan “people as infrastructure“ (manusia sebagai infrastruktur)
              untuk memperluas gagasan tentang infrastruktur dan aktivitas
              manusia.  Gagasan Simoné tentang “manusia sebagai infrastruktur”
                      11
              mendeskripsikan keahlian untuk memproduksi keluaran maksimal
              dari penciptaan ulang lingkungan urban yang bersifat tidak pasti
              dan rentan. Hal ini pada gilirannya, menurut Simoné, mempengaruhi
              bagaimana seseorang hidup, membuat sesuatu dan berkolaborasi
              dengan orang lain. Pengamatan saya menunjukkan bahwa “manusia
              sebagai infrastruktur” ini muncul dalam beragam bentuk—koneksi,
              gotong royong, budaya sukarelawan dan jaringan. Beberapa orang
              merujuk kepada sekelompok orang lain sebagai “sistem pendukung.”
              Lalu, bagaimana cara membongkar hirarki relasi sosial yang tak
              tampak dalam pengorganisasian budaya independen jika ia dibentuk


              11  Abdoumaliq Simoné, “People as Infrastructure: Intersecting Fragments in Johannesburg,” dalam
              Public Culture, Vol. 16, No. 3 (2004), hlm. 407-429.


                                                                 Nuraini Juliastuti
   323   324   325   326   327   328   329   330   331   332   333