Page 356 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 356

Pilihan untuk berkolektif di medan seni Bandung kerap dianggap
              sebagai apa yang dikatakan oleh seniman Zico Albaiquni sebagai   335
              existential survival (Hidayat, 2018), atau didasarkan pada dorongan
                                           1
              untuk bertahan hidup bagi para seniman. Hal ini menjadi bentuk
              gambaran bagaimana medan seni di Bandung sebenarnya terperosok
              pasca-boom seni rupa kontemporer, ketika inisiatif kolektif menjadi
              satu pilihan untuk bertahan bersama-bersama, setelah sebelumnya
               Untuk dibaca bersama
              fokus para seniman dan kurator tersita pada medan pasar seni rupa.
              Boom seni rupa kontemporer yang diperkirakan terjadi dari 2007
              hingga 2012 memiliki dampak signifikan bagi pergerakan medan seni
              di Bandung. Fenomena boom ini kerap dipercaya sebagai pendorong
              lintasan karir seorang seniman. Di masa itu, para seniman muda—
              kebanyakan lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi
              Bandung (FSRD ITB)—mulai berjejaring dengan para pengajarnya
              yang juga berprofesi sebagai kurator, dan mulai diikutkan ke dalam
              pameran-pameran di berbagai galeri di Bandung, Jakarta, Yogyakarta
              dan Magelang, beberapa bahkan merambah pasar regional seperti
              Singapura, Malaysia, dan Filipina.


              Hal tersebut secara tidak langsung memberikan ilusi pada pelaku seni
              bahwa karier di medan seni hanya terbatas pada menjadi seniman,
              kurator, penulis, dan manajer yang terserap oleh pasar. Akhirnya,
              fokus produksi medan seni yang berupa pameran dan diskusi sering
              lebih terkonsentrasi pada wacana pasar dibandingkan aspek kritis dari
              praktik seni rupa itu sendiri. Hal ini terlihat pada fenomena munculnya
              pameran seni yang diberi label “Bandung,” seperti Bandung New
              Emergence, Bandung Initiative, Bandung Art Now, ataupun Bandung
              Invasion. Selama periode ini, fokus di dalam aktivitas medan
              seni Bandung tertuju pada aktivitas pasar seni rupa, sehingga
              kegiatan berkolektif tidak banyak menjadi pembicaraan ataupun
              diperhitungkan secara signifikan. Kerja-kerja kolektif yang muncul
              dalam rentang boom lebih terlihat pada kolektif sebagai strategi
              pendukung positioning di pasar, seperti ABSTRA-X atau Parallab.


              1  Nina Hidayat, “Babak Baru Industri Kreatif Bandung,” destinasian.co.id/babak-baru-industri-kreatif-
              bandung/, diakses pada 13 Juni 2018.
                                                        Azizi Al Majid & Endira F. Julianda
   351   352   353   354   355   356   357   358   359   360   361