Page 125 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 125
Ketika terbuka jendela, terdengar hiruk-pikuk/
104 kota. “Apa saja yang sudah kuberikan kepadamu,”
kata/ penyair, “kecuali nyawaku ini yang teraniaya.”/
Rakyat yang miskin merangsak ke muka.” Kami
ingin/ matamu!” teriak mereka. “Kami ingin
matamu, yang bisa/ merobah butir pasir yang
tercecer dari karung menjadi/ emas di jalan. Beri
Untuk dibaca bersama
matamu, matamu!”/ Ada yang masih mau membela
penyair itu. “Ingat,/ tanpa mata penyair menjadi
buta!” / Tetapi rakyat yang putus asa tidak peduli.
Mereka/ renggut mata penyair itu dari lubang
matanya, dan lewat/ kedua bola matanya mereka
melihat dunia sekelilingnya./ Tetapi pasir yang
tercecer tidak menjadi emas. Mereka/ menjadi
kecewa dan merebus dan melahap kedua bola/
mata itu. Dan tidak terjadi apa-apa./ Penyair yang
buta itu duduk di jendela dan tertawa/ menghadap
ke kota. Tanpa mata dilihatnya semua begitu/
indahnya. Begitu indahnya!”
– Subagio Sastrowardoyo, 1993. 1
If good art is for all, then surely it should
start on the streets we walk.
– ruangrupa’s 10 anniversary exhibition, 2010.
th
2
***
1 Subagio Sastrowardoyo, “Mata Penyair,” dalam Horison, No. 7, Thn. XXVII (1993), hlm. 57.
2 Katalog pameran ruangrupa’s 10th anniversary, Decompression #10: Expanding the Space and Public
(2010), hlm. 222.
Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme

