Page 130 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 130
seni rupa.” “Gerakan pembebasan” itu segera berhadap-hadapan
7
dengan tradisi simbolisme di dalam praktik seni rupa, memadamkan, 109
namun juga memperbaruinya. Akan tetapi yang lebih penting dari
hal itu adalah, di dalam hubungan antara seni dan masalah-masalah
aktual “seolah muncul” konsep kesadaran baru para perupa.
Esai yang lumayan rumit dan ditulis dengan gaya bahasa yang
Untuk dibaca bersama
khas itu telah menolong saya untuk memasuki periode berikutnya.
Periode itu justru menandai hadirnya praktik-praktik “keterlibatan
dan keperansertaan yang langsung,” antara seni dan masalah-
masalah aktualnya, yang tidak lagi bisa digambarkan dengan
istilah “seolah muncul.” Beberapa paparan dalam tulisan ringkas
ini kerap kali akan kembali lagi kepada esai yang sama, baik
untuk meminjam beberapa frasa dan ungkapannya maupun untuk
mengurai kerumitannya—atau mempertanyakannya. Penandaan
periode waktunya bahkan dapat kita gunakan sebagai titik-titik
hubung berbagai perkembangan baru di dalam seni rupa kita, untuk
membawa kita pada era 2000-an dan sesudahnya.
Debat Dua Kolektif
Pada April 2000, sebuah komunitas para seniman didirikan di Jakarta
dengan nama singkat: ruru. Nama itu adalah kependekan dari
ruangrupa. Esai oleh Ugeng T. Moetidjo di atas ditulis hanya beberapa
bulan sesudah ruru berdiri, sekaligus menandai salah satu agenda
di ruang publik pertama yang digulirkan oleh kelompok seniman
muda itu. Pada pertengahan 2000, ruru mengadakan sebuah debat
terbuka antara dua komunitas seniman yang belum lama didirikan
7 Tak pelak, istilah “gerakan pembebasan di tataran estetik” berlatar era 80-an membawa ingatan kita pada
kecenderungan beberapa perupa muda untuk keluar dari tradisi formalisme dan estetisme. Di Bandung,
pada akhir 80-an, misalnya, muncul antara lain kelompok Sumber Waras, yang mewadahi sebagian
mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB), yang cenderung pada
aksi-aksi performans. Kecenderungan semacam ini kemudian dikenal dengan nama “jeprut,” “ngejeprut,”
dan “jepruters.” Kecenderungan ini dianggap orisinal dan khas, sui generis, sebagai reaksi seniman atas
situasi sosial-politik dan pembatasan atas ekspresi estetik dalam rezim politik di Indonesia masa itu.
Pada 1985, Moelyono mengajukan proyek “Kesenian Unit Desa,” hasil pengamatannya atas
kehidupan sehari-hari para petani di Desa Waung, Tulungagung, untuk ujian akhirnya di Fakultas
Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Lalu, penelitian lapangan dan rancangan
sejumlah perupa di Jakarta dan Bandung menghasilkan pameran “Pasaraya Dunia Fantasi” dengan
Manifesto Gerakan Seni Rupa Baru 1987: “Seni Rupa Pembebasan, Pembebasan Seni Rupa.” Manifesto
ini ditulis oleh kritikus cum seniman Jim Supangkat bersama Sanento Yuliman.
Hendro Wiyanto

