Page 126 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 126
Pada pertengahan awal 2000, seorang seniman dan esais di Jakarta
menuliskan kalimat-kalimat panjang yang rumit dalam sebuah 105
makalahnya, seperti di bawah ini:
“(…) Baru menjelang pertengahan tahun 1980-an seolah muncul
suatu konsep kesadaran akan pentingnya keterlibatan dan
keperansertaan yang langsung antara seni dengan permasalahan
Untuk dibaca bersama
aktual (ia senantiasa ditengarai ke dalam kondisi sosio-politik,
dari titik pijak mana seni harus memulai langkah-langkah
penyelesaian di dalam dirinya sendiri, pertama bersama suatu
dalih meleburkan situasi permenungan dengan aksi badani
untuk kemudian melakukan tindakan realistis dalam melawan
imajinasi) lewat usaha-usaha memutus jembatan penghubung
dari pengamatan objek yang teranggap sebagai sarana reflektif
dari satu bagian mata rantai yang mengendalikan penafsiran
dan lalu pemanfaatan atas karya seni yang sudah seperti
bernasib untuk ditempatkan dalam keadaan-keadaan tabiat
penilaiannya yang konvensional, terakhir dipicu oleh semangat,
mula-mula, gerakan pembebasan ranah estetik, yakni dan mati
dan diperbaruinya lagi disfungsi-disfungsi simbolistis tatanan
elemental seni rupa.” 3
Saya telah berusaha mengutip setepat-tepatnya bagian dari esai yang
menarik perhatian saya ketika mulai mengumpulkan bahan-bahan
untuk tulisan ini. Melalui kutipan itu kita telah memperoleh petunjuk
mengenai tengara atau ancer-ancer waktu, yakni “pertengahan 1980-
an.” Periode ini melatari pengamatan penulis esai atas kecenderungan
baru atau “konsep kesadaran” tertentu dalam dunia seni rupa, yaitu
“pentingnya keterlibatan dan keperansertaan antara seni dangan
permasalahan aktual.” Di sekitar masa itu, praktik seni rupa tampak
tengah berkembang ke arah kecenderungan atau “dalih” tertentu,
dengan beberapa tahapan yang berpijak pada “kondisi sosio-politik.”
Dorongan ke arah perubahan itu disebut sebagai upaya atau langkah-
3 Ugeng T. Moetidjo, “Pemerihalan ‘Khalayak’ sebagai Suatu Tendensi yang Tertentu,” makalah
dipresentasikan di aula lembaga Japan Foundation, Jakarta (2000).
Hendro Wiyanto

