Page 127 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 127

106  langkah seni—dan tentu saja para seniman—untuk menyelesaikan
             masalah tertentu yang selama ini merundungnya. Secara tersirat seni
             digambarkan tidak lagi sebagai dunia perenungan; atau secara lebih
             konkret, para seniman bukan lagi subjek yang melulu merenung-
             renung—entah di studio atau di mana saja—tetapi berupaya untuk
             “meleburkan situasi permenungan dengan aksi badani.” 4

               Untuk dibaca bersama
             Dikatakan di dalam esai, bahwa situasi baru yang terasa non-reflektif
             di dunia para seniman, pada tahapan berikut bahkan cenderung
             menunjukkan sikap tertentu yang “realistis dalam melawan
             imajinasi.”  Menurut esai ini pula, di sekitar kurun seperti itulah
                      5
             objek-objek seni tidak lagi bisa dengan tepat dimaknai sebagai sarana
             reflektif yang mengundang berbagai tafsir, yang selama itu nasibnya
             lebih ditentukan terutama oleh “keadaan-keadaan tabiat penilaiannya
             yang konvensional.” 6



             4  Istilah “aksi badani” ini tentunya pertama-tama mengingatkan kita pada apa yang secara umum
             pernah  disebut  sebagai “perspektif baru” oleh kritikus  Sanento  Yuliman pada pertengahan 70-an.
             Melalui “perspektif baru,” karya seni rupa hadir sebagai objek-objek nyata, menyuguhkan pengalaman
             konkret dan insani atas benda-benda di dalam ruang pameran. Dan, pada tahap selanjutnya, kalau perlu,
             kehadiran  objek/benda  ini  bahkan  akan  mengganggu  penonton  pameran  secara  fisik.  Dasawarsa  80-
             an memberikan contoh-contoh yang lebih tegas perihal “aksi badani” ini terutama, misalnya, melalui
             tampilnya kecenderungan performans oleh beberapa perupa. Aksi semacam itu umumnya disebut
             sebagai “lebih dari sekadar pameran.”
                Pameran “Pasaraya Dunia Fantasi” (1987) di Taman Ismail Marzuki yang cukup heboh itu juga
             berlangsung pada periode ini. Pameran hasil kerja kolaborasi sejumlah perupa ini mengetengahkan
             dan memparodikan berbagai wujud ekspresi urban yang melimpah ruah dalam kehidupan sehari-
             hari  di kota  besar seperti Jakarta (tren  gaya hidup  kota, kebudayaan  iklan,  media  massa  populer,
             poster  film,  kalender,  stiker  sampai  komik).  Akan  tetapi,  karya  instalasi  ruang  ini—berbeda  dengan
             kecenderungan performatif sebelumnya—justru cenderung meredam aksi badani. Berbagai unsur rupa
             dan objek-objek nyata dalam ruang pameran—“karya situasi”—seluruhnya tampil sebagai konfigurasi
             yang diam, tidak dimaksudkan untuk menggugah atau mengundang tanggapan fisik penonton untuk
             tema seluas dan sekonkret itu. Pameran itu “bersifat aneka inderawi” yang memberikan penekanan
             “terlalu besar kepada penglihatan gambar (dwimatra) dan kurang menampilkan benda trimatra yang
             dapat “ditangani” penonton.”
                Lih. Sanento Yuliman, “Parodi Pasaraya,” dalam Estetika yang Merabunkan: Bunga Rampai Esai dan
             Kritik Seni Rupa (1969-1992), (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta dan Gang Kabel, 2020), hlm. 565.
             5  Ungkapan ini segera membawa ingatan saya pada adegan sangat “realistis” ketika seorang perupa bernama   Gambar 1. Karya situasi pada pameran “Pasaraya Dunia Fantasi.”
             Semsar Siahaan berupaya menyudahi “imajinasi” pada karya-karyanya sendiri. Semsar telah membakar ludes   Lokasi: Ruang Pameran Utama, Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1987).
             250 karya gambarnya di aula Gedung Yayasan Pembina Kesenian (YPK), Bandung, usai memamerkannya
             berkeliling di sejumlah kota (Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Salatiga dan Bandung) pada 10 April 1988.      Sumber: F.X. Harsono.
                Akan tetapi, seperti ditunjukkan oleh aksi realistis oleh Semsar, menurut hemat saya “melawan
             imajinasi” tidak begitu saja identik dengan “non-reflektif.”
             6  Meski terasa tidak cocok dengan “kode” atau tengara waktu yang diberikan oleh penulis esai, tapi
             kalimat ini, entah kenapa, dengan segera menggiring ingatan saya pada sebuah lukisan A.D. Pirous,
             yakni “Mentari Setelah September 1965,” yang selesai dilukis pada 1968. Karya ini telah menimbulkan
             perbedaan tafsir yang tajam antara sejarawan seni dan ahli antropologi (dan senimannya sendiri):
             apakah karya itu menandai “perlawanan visual” sebagai “kritik terhadap rezim Soeharto,” ataukah
             menandai datangnya “rezim estetis,” yang justru memperlihatkan “kegembiraan” seniman sesudah
             “kemuraman, penderitaan setelah 1966”?
                Lih. Kenneth M. George, Politik Kebudayaan di Dunia Seni Rupa Kontemporer: A.D. Pirous dan Medan
             Seni Indonesia (Yogyakarta: Yayasan Seni Cemeti, 2005), hlm. 25, 41.
             Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme
   122   123   124   125   126   127   128   129   130   131   132