Page 16 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 16
merespons berbagai problem sosial yang dihadapi warga di sekitar
mereka. Ketika seluruh agenda pameran, residensi atau perjalanan xv
batal, kolektif-kolektif seni tidak lantas diam dan menunggu.
Sebagian dari mereka bergegas membuat bengkel alat pelindung diri
(APD), membuat jejaring solidaritas, mengorganisir pendistribusian
masker, membentuk dapur umum, membantu distribusi hasil panen
petani, membuka ruang edukasi warga terhadap pandemi, mengajak
Juliastuti. Ia menulis mengenai kebun kolektif Humatera yang ma
warga menanam rempah dan tumbuhan obat hingga membuat
lokakarya online dan lain sebagainya.
Untuk dibaca bersa
Salah satu inisiatif tersebut dicatat dalam buku ini oleh Nuraini
dikerjakan oleh kolektif seni Kerjasama 59 di Surabaya, Jawa
Timur. Ketika pandemi terjadi, para anggota kolektif Kerjasama 59
menyadari bahwa pandemi ini akan berjalan panjang. Maka, mereka
pun mengubah atap rumah kontrakan mereka menjadi kebun yang
bisa ditanami aneka sayuran mulai dari terong, bayam, tomat, cabai
sampai padi. Inisiatif membuat kebun tersebut dilandasi “keinginan
untuk mencukupi kebutuhan makan secara rutin, yang diharapkan
bisa mengurangi ongkos belanja sehari-hari.” Selain membuat
Humatera, kolektif Kerjasama 59 juga membuat inisiatif Pawon’e Arek-
Arek, sebuah dapur umum yang mendistribusikan makanan gratis
kepada warga yang membutuhkan—mayoritas adalah para pekerja
informal—setiap hari Jumat. Dua inisiatif yang dikerjakan oleh
Kerjasama 59 pada masa pandemi tersebut dicatat Nuraini sebagai
karakter khas kolektif yang memiliki cara kerja organik dan memiliki
keleluasaan untuk membuat berbagai kegiatan yang diproyeksikan
untuk mencapai kemandirian. Untuk merekam berbagai inisiatif
impromptu semacam itu, tim peneliti juga membentuk sebuah grup
whatsapp dan sesi obrolan virtual terbatas di mana setiap kolektif
yang diundang dapat saling menceritakan kondisi dan aktivitas
mereka di bulan-bulan pertama ketika pandemi melanda.
Tim Peneliti

