Page 14 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 14

hanya berhenti pada bentuk kapital atau finansial saja. Lebih dari itu,
              berbagai bentuk modal sosial ternyata lebih kokoh dalam menyokong   xiii
              kebertahanan mereka sebagai kolektif seni.


              Salah satu ilustrasi menarik muncul dalam sebuah sesi wawancara
              yang kami lakukan dengan satu kolektif seni yang sudah berumur
              lebih dari sepuluh tahun dan belum sekalipun mendapatkan
               Untuk dibaca bersama
              pendanaan eksternal. Karya-karya mereka tidak bisa dijual, namun
              mereka aktif membuat berbagai kegiatan yang melibatkan puluhan
              kolektif seni lain di daerahnya. Melalui wawancara yang dipandu
              oleh Ajeng Nurul Aini yang juga dimuat dalam buku ini, beberapa
              kolektif melalui perwakilannya berbagi cerita mengenai siasat-
              siasat kebertahanan mereka. Bagaimana cara mereka bertahan
              sebagai sebuah kolektif seni? Beberapa anggotanya yang kami
              wawancara menyebut bahwa kolektif mereka bertahan karena faktor-
              faktor seperti ketersediaan waktu luang, kesamaan selera humor,
              kemurahan hati, hubungan sosial dan lain sebagainya. Kebutuhan
              personal hidup sehari-hari mereka penuhi dengan cara bekerja apa
              saja, sementara kolektif seni menjadi wadah sosial dan saluran
              ekspresi yang mereka miliki. Karena tidak pernah bergantung pada
              pasar seni global, maka keberadaan kolektif seni tidak dipengaruhi
              oleh fluktuasi nilai dan kapitulasi pasar. Kemandirian dalam hal ini
              perlu dipahami sebagai sebentuk ketahanan dan kedaulatan yang
              menyokong dimensi sosial dalam praktik artistik mereka.

              Bekerja Bersama
              Penelitian ini dikerjakan kurang lebih sekitar 16 bulan (di sepanjang
              2019-2021) oleh tim peneliti yang terdiri dari Ajeng Nurul Aini, Ayos
              Purwoaji, Berto Tukan, Gesyada Siregar, Dwita Diah Astari dan Gusti
              Hendra Pratama. Pada awalnya, kami merancang sebuah metode
              penelitian kualitatif di mana setiap peneliti direncanakan untuk
              melakukan perjalanan dan observasi langsung ke beberapa kolektif
              seni yang tersebar di beberapa daerah di Indonesia. Sebelum turun
              ke lapangan, tim riset melakukan lokakarya untuk menjaring nama-



                                                                   Tim Peneliti
   9   10   11   12   13   14   15   16   17   18   19