Page 13 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 13
xii artistik saja, melainkan juga sebuah wadah sosial atau bahkan mode
bertahan hidup. Karakteristik ini sekaligus juga menjawab sebuah
pertanyaan klasik: bagaimana karya kolektif seni dapat masuk dan
diterima oleh pasar seni? Pertama, sebagian besar kolektif seni tidak
memiliki bayangan atau bahkan ketergantungan terhadap mekanisme
pasar. Ini adalah sebuah karakteristik yang berbeda dibandingkan
dengan kelompok-kelompok seniman yang berorientasi pada satu
Untuk dibaca bersama
bentuk medium kekaryaan saja. Kedua, sebagian besar kolektif seni
memposisikan praktik artistik mereka sebagai sebuah metode untuk
mencapai tujuan sosial yang mereka cita-citakan. Karya seni mereka
tidak dapat dibingkai sebagai objek komoditas belaka, namun dapat
mencakup berbagai bentuk kerja lintas disiplin. Ayos Purwoaji, melalui
tulisannya dalam buku ini, menggambarkan bahwa “proses penciptaan
seni yang mereka lakukan–sekaligus karya seni yang dihasilkan–hanya
dapat dilihat melalui jarak pandang tertentu karena memiliki bentang
waktu yang panjang dan melibatkan partisipasi banyak pihak.”
Tidak adanya hubungan langsung antara praktik artistik kolektif seni
dengan mekanisme pasar seni menarik untuk ditelusuri lebih jauh.
Pada penelitian ini, kami mencoba memetakan strategi keberlanjutan
yang mereka miliki—tidak hanya dalam konteks gagasan, namun
juga dalam konteks ekonomi. Bagaimana kolektif-kolektif ini mampu
bertahan? Bagaimana peta sumber daya mereka? Melalui berbagai
wawancara yang dilakukan, kami mendapati adanya sebuah
keragaman sumber daya yang menopang praktik kolektif seni saat
ini. Pada dekade 90-an atau bahkan pada 2000-an, sebagian kolektif
seni mendapatkan dukungan melalui pendanaan asing atau bertahan
dengan cara patungan, sebagaimana yang diurai dalam tulisan Berto
Tukan mengenai faktor-faktor kemunculan kolektif seni di mana
dalam sepuluh tahun terakhir, terdapat diversifikasi sumber daya,
mulai dari kerjasama dengan pihak swasta, membentuk koperasi
usaha, mengakses anggaran pemerintah hingga membangun strategi
ekonomi mandiri dan mengembangkan usaha berbasis komunitas
masyarakat. Pengertian modal bagi kolektif seni di Indonesia tidak
Sekapur Sirih

