Page 173 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 173

152  solidaritas. Sebagai contoh, saat Taring Padi mendatangi Porong,
             Sidoarjo (2010), rupanya kehadiran mereka tidak lantas disambut
             dengan hangat oleh warga, kendati sebelumnya telah melakukan
             survei. Sekitar satu bulan kemudian, Taring Padi kembali ke korban
             lumpur Lapindo di Porong, Jawa Timur. Hal ini sekiranya dapat
             dimaklumi karena masyarakat perlu berhati-hati dan tidak tergesa-
             gesa dalam menentukan sikap di tengah krisis yang sedang mereka
               Untuk dibaca bersama
             hadapi. Taring Padi mengambil celah untuk mendekat melalui
             anak-anak. Aktivitas yang dilakukan yaitu bermain membuat kreasi
             wayang dari kardus, lalu diwarnai bersama. Melalui kegiatan tersebut,
             lambat laun didapatkanlah kepercayaan dari masyarakat Porong.
             Selama menetap, Taring Padi mengadakan beragam aktivitas, seperti
             lokakarya, pentas seni dan dialog bersama masyarakat setempat.
             Melihat yang sudah dilakukan Taring Padi, masyarakat merasa
             puas akan semangat yang sama dalam aksi solidaritas tersebut,
             sehingga kemudian Taring Padi diundang untuk mengikuti peringatan
             selanjutnya (Peringatan ke-5; peringatan ke-6 dan 7 diundang namun
             tidak bisa datang; lalu, yang terakhir peringatan ke-8 pada 2014).


             Pada instalasi “Hands of Hope,” masyarakat korban lumpur Lapindo
             menuliskan perasaan mereka pada potongan-potongan kardus
             berbentuk tangan. Kehadiran Taring Padi di sana adalah sebagai teman
             yang turut merasakan kepedihan serta turut berjuang. Rangkaian
             kegiatan tersebut kemudian menghasilkan ikatan emosional yang
             luar biasa. Terhitung sejak saat itu, Taring Padi mengikuti peringatan
             Tragedi Porong setiap tahunnya.


             Karakteristik Taring Padi yang kerap membuat karya dengan metode
             live in juga mempertimbangkan aspek material. Fokus pertimbangannya
             adalah bagaimana masyarakat bisa dengan mudah mendapatkan
             material untuk membuat karya di kemudian hari karena ketersediaan
             alat dan bahan seni di sejumlah daerah tidak berlimpah atau
             beragam. Berbekal material yang mudah ditemukan dan digunakan,
             seperti kardus bekas dan sembarang jenis cat, mereka harus dapat



             Mengurai Ingatan: Memaknai Keberadaan Kolektif Taring Padi
   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178