Page 23 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 23

2              pa yang melatari sekumpulan orang berkumpul dan
                        bekerja secara bersama-sama dengan aturan main
                        tertentu—terkadang peraturan itu ditetapkan dari
             A awal, tetapi lebih kerap terbentuk secara organik—di
             medan seni kontemporer Indonesia? Salah satu alasan paling awal
             yang menjadi asumsi kami adalah bekerja dan hidup dengan cara
             kolektif-komunalistik. Cara hidup kolektif-komunalistik itu sendiri
               Untuk dibaca bersama
             bukanlah hal baru dalam konteks kebudayaan Indonesia. Pasalnya,
             berkolektif dan atau berkomunitas membutuhkan sebuah
             mekanisme kerja yang terangkum dalam kata ini: Gotong royong.


             Masyarakat Indonesia sudah mengenal gotong royong dari jauh-jauh
             hari. Ketika Indonesia hendak memulai perjalanannya, dibutuhkan
             pendasaran hidup bersama sebagai bangsa. Dan ketika itu, di
             dalam pidato Pancasila pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha
             Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) 1 Juni 1945, Sukarno mengatakan,
             “…Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi
             satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen,
             yaitu perkataan “gotong royong”. Negara Indonesia yang kita dirikan
             haruslah negara gotong royong! ” Sehingga, gotong royong adalah
                                        1
             Philosophische Grondslag bangsa Indonesia.


             Kegotongroyongan ini muncul karena dua jenis pekerjaan utama
             manusia Nusantara dahulu kala, yakni berlaut dan berkebun,
             mensyaratkan kerja bersama. Pada berkebun, kita tahu ada sistem
             lumbung. Pada berlaut, tentulah sebuah kapal membutuhkan
             banyak orang yang kerja bersama di tengah lautan luas (bahkan,
             pada perkapalan modern pun pemimpin bukan hanya satu, sang
             kapten saja, tetapi ada dua, yakni kapten dan kepala kamar mesin).
             Namun demikian, perkembangan model ekonomi, yang menjadi
             tumpuan model hidup lainnya itu, mengubah dan mengikisnya sedikit
             demi sedikit hingga kini menyisakan model kerja dan hidup yang
             cenderung individualistik, seturut model ekonomi kapitalistik. Bisa

             1  Dikutip dari, “Pidato Soekarno: Lahirnya Pancasila,” https://kepustakaan-presiden.perpusnas.go.id/
             diakses pada 11 Februari 2021.

             Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28