Page 24 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 24
jadi, perubahan dari model hidup komunalistik ke individualistik 3
merupakan sebuah keniscayaan dalam hidup masyarakat mana pun.
Dalam kasus Indonesia, kolonialisme mempercepat proses perubahan
tersebut. Memparafrasekan Chairil Anwar, kolonialisme sekadar
mempercepat kelam, sebuah situasi ketika komunalistik hilang dan
digantikan oleh individualistik.
Untuk dibaca bersama
Seni, tentu saja, bukan semacam makhluk super yang terbebas dari
kutukan itu. Individualisme dalam konteks seni rupa, misalnya,
dipercepat dengan kebanggaan Tirto Adhi Soerjo terhadap Raden
Saleh atau Sutan Takdir Alisjahbana terhadap Mas Pirngadie. Kedua
2
intelektual penting itu berbangga pada pembubuhan tanda tangan
seseorang pada sebuah karya seni, sebuah laku yang tak dikenal dua
generasi sebelum mereka. Artinya, seni tradisional Indonesia, yang
tidak mengenal authorship, juga terkena imbas dari modernitas—
authorship dalam seni jelas adalah produk modernisme Eropa—yang
dibawa kolonialisme; karya seni milik komunal pun perlahan berubah
menjadi karya seni individualistik.
Kerja bersama sesungguhnya selalu ada di dalam konteks seni
meskipun ia diletakkan di dalam warna yang menyaru. Kerja bersama
itu tampak dalam apa yang kita sebut medan sosial ataupun ekosistem
seni. Di dalam sana, banyak tangan bergerak dengan peran masing-
masing. Terkadang, mereka tidak saling mengenal, tetapi kerja
masing-masingnya memperteguh dan mempertegas kehadiran yang
lainnya; yang satu tak mungkin ada tanpa yang lainnya.
Kemunculan kolektif seni di dalam konteks ini bisa dilihat sebagai
upaya mempertegas garis-garis kerja bersama tersebut. Di dalam
latar yang demikian, sedari Pancasila hingga ekosistem, di seluruh
Indonesia muncul dan berkembang begitu banyak kolektif–komunitas
2 Tirto Adhi Soerjo, “Raden Saleh,” dalam Medan Prijaji, No. 8, Thn. IV (1910), dan Sutan Takdir
Alisjahbana, “Mas Pirngadie: Ahli Gambar Bangsa Indonesia,” dalam Seni Rupa Indonesia dalam Kritik
dan Esai, eds. Bambang Bujono, Wicaksono Adi, (Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2012), hlm. 7-20.
Tulisan Sutan Takdir ini awalnya dipublikasikan di Poedjangga Baroe, Thn. II (1934).
Berto Tukan

