Page 25 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 25
3
4 yang bergerak di bidang seni–budaya. Pada FIXER 2021 ini saja,
dibacalah dengan mendetail 56 kolektif seni di Indonesia. Pada
bagian ini kita akan melihat perihal kemunculan kolektif-kolektif seni
tersebut, beserta hal-hal selingkup di sekitar kemunculannya.
Tiga Gelombang Kolektif
Kemunculan kolektif seni di Indonesia di dalam konteks pembacaan
Untuk dibaca bersama
FIXER, dan juga melihat beberapa literatur, bisa dikatakan tidak lepas
4
dari latar sosio-politik Indonesia. Sebenarnya hal ini pun berlaku pada
periodisasi seni lain. Bagi periodisasi seni yang lain, barangkali sosio-
politik mesti dinegasikan atau mendapat alternatif lain dari periodisasi
dengan alasan berbeda, misalnya teknologi. Pada hemat kami, di
dalam konteks kemunculan kolektif seni, perkara sosio-politik ini tidak
bisa tidak menjadi latar utama dan satu-satunya.
Tahun Terbentuk 5
3 Ibrahim Soetomo, Direktori: Peta Kolektif Indonesia 2010-2020 (Jakarta: Whiteboard Journal dan
British Council, 2020). Selain itu, lihat juga kerja penjaringan seniman, kolektif/komunitas dan ruang
alternatif yang diinisiasi oleh a.l. Kolektif Hysteria (Semarang) dan Serbuk Kayu (Surabaya), yang
mereka beri judul Jejaring SARTCAS. Lih. informasinya di akun Instagram resmi Jejaring SARTCAS,
@sartcas.id, diakses pada 16 Februari 2021.
4 Baca, misalnya, Ade Darmawan, di katalog FIXER: Pameran Ruang Alternatif dan Kelompok Seni Rupa di
Indonesia. Lih. Ade Darmawan dan Agung Hujatnika dalam eds. Hafiz dan Ronny Agustinus, Siasat: Seni
Rupa dan Budaya Kontemporer di Indonesia (Jakarta: Yayasan Ruang Rupa, 2012).
5 Dalam survei FIXER, pertanyaan ini memungkinkan setiap kolektif memilih lebih dari satu jawaban.
Pada Air-Tanah yang Sama, Musim Berbeda: Perihal Kemunculan Kolektif Seni dalam Pembahasan FIXER 2021

