Page 308 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 308

Tidak Perlu Kreatif-Kreatif Amat
              Kasihan kerja otak kita berkali lipat. Prinsip amati, tiru dan modifikasi   287
              rasanya masih ampuh. Produk tiruan dan tidak perlu kreatif-kreatif
              amat namun sukses bisa kita temukan dalam kasus Kampung
              Pelangi. Kita tahu Romo Mangun di Kali Code dan Kampung Jodipan
              warna-warni di Malang telah lebih dulu mengecat kampungnya.
              Tapi, Kampung Pelangi di Semarang mendapat spot istimewa karena
               Untuk dibaca bersama
              muncul dalam momentum yang tepat, bersamaan dengan trend
              selfie di Instagram dan mendapat full support pemberitaan, baik dari
              pemerintahan maupun media-media asing. Tidak ada yang baru
              baik dalam hal bentuk maupun konten. Diaplikasikan begitu saja
              nyatanya menuai sukses, setidaknya dalam parameter pemberitaan
              dan sokongan dana. Pertanyaannya, kita mau beradu dalam level apa?
              Kalau kebutuhannya survive di daerah, menjadi peniru saja kadang
              sudah cukup. Toh, dalam aktivisme kesenian, seperti halnya di kota-
              kota lain di luar arus utama medan seni, banyak bentuk ekspresi
              seni lain yang tidak banyak digarap karena pemainnya cukup sedikit.
              Sebagai contoh, secara umum seni rupa masih banyak didominasi
              praktik galeri yang mengandalkan bidang dwimatra sementara
              trimatra maupun eksperimen lain tidak banyak diamalkan. Tidak perlu
              kreatif. Meniru dan memberi konteks saja sudah bisa menjadi strategi
              yang berhasil. Praktik-praktik yang sudah ada kadang mendapatkan
              penamaan atau sistem kategori yang sudah eksis sebelumnya.
              Katakanlah, seni partisipatif, yang mentok di era Moelyono. Seolah-
              olah tidak ada kebaruan praktik di luar itu yang mendorong pekerja
              seni susah payah membuat statement. Toh, sistem kategori yang
              dipakai tetap model lawas. Jadi, alih-alih mencari statement baru yang
              melelahkan dalam medan seni Indonesia yang barangkali juga susah
              diakui, lebih baik memberi warna yang sudah ada. Toh, sudah umum
              kota-kota di luar Yogyakarta, Bandung, Jakarta dianggap epigon atau
              turunan saja dari praktik yang sudah ada. Jadi, tidak perlu repot-repot
              masuk dalam sejarah besar arus seni visual Indonesia. Barangkali
              energinya bisa digunakan untuk hal lain, misalnya jualan martabak
              atau jasa lukis potret untuk kelangsungan hidup.



                                                                       Adin
   303   304   305   306   307   308   309   310   311   312   313