Page 312 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 312

Gambar 2. Hysteria Edisi 1, 11 September 2004, zine yang
              menjadi awal mula berdirinya Hysteria.                          291
              Sumber: Hysteria.



              bisa dimungkiri bahwasanya representasi seni rupa Indonesia dalam
              pameran-pameran internasional banyak didominasi tiga kota itu,
              dengan infrastruktur dan ekosistemnya yang lebih kaya. Ketiga kota
               Untuk dibaca bersama
              itu sering menjadi role model untuk belajar dan panutan sementara
              bagi daerah-daerah yang ekosistemnya benar-benar berbeda. Dari
              kapan tahun, pegiat atau seniman di daerah bertanya-tanya apa yang
              kurang ketika kecanggihan teknik telah dikuasai tapi tetap gagal
              masuk pasar maupun wacana arus utama. Keluhan soal ketiadaan
              pencatat, kritikus, galeri, museum, dan seterusnya seolah tiada
              habisnya. Jangankan melengkapi infrastruktur yang ada, bertahan
              dan tetap bisa bergerak saja sudah bagus. Dikira jika sudah punya
              galeri lantas bisa masuk lingkaran seni rupa kontemporer Indonesia?
              Tidak semudah itu, Ferguso!


              Tautkan dengan Konteks (Memahami Relevansi
              Keberadaan Kolektif dalam Ekosistem Kota)
              Inilah yang membuat Hysteria mempunyai fokus pada isu-isu lokal:
              karena ingin menjadi bagian dari sejarah kotanya sendiri. Pemahaman
              terhadap konteks lokal membuat praksis yang dijalani Hysteria lebih
              membumi dan membuka peluang pendanaan dari stakeholder yang
              berkepentingan dengan ekosistem ini. Hysteria bisa memahami isu
              perubahan iklim Semarang, termasuk leading sector dalam bidang itu.
              Funding raksasa seperti Rockefeller, misalnya, justru berkepentingan
              masuk dan menjadi alternatif daripada bersaing dengan funding
              arus utama medan seni kontemporer yang digenggam erat status
              quo. Strategi memahami kondisi lokal ini juga yang menuntun
              pada belajar lebih jauh mengenai partisipasi publik dalam proses
              pembentukan kota, yang erat kaitannya dengan pemerintah daerah
              dan juga perusahaan-perusahaan yang tumbuh di dalamnya. Rasanya,
              paham konteks dan tahu kekuatan kotanya bisa memudahkan kolektif
              untuk menautkan diri pada stakeholder yang lebih besar. Kota Lama,

                                                                       Adin
   307   308   309   310   311   312   313   314   315   316   317