Page 306 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 306

sebelumnya, bukan merupakan terobosan-terobosan avant-garde
              yang susah dipahami orang dan menyulitkan diri sendiri dalam    285
              konteks keberlangsungan kolektif. Justru pasar itu harus dituruti, dan
              pada tikungan-tikungan tertentu dibelokkan, jika kita memang sejak
              awal tidak punya modal besar berenang melawan arus. Berdasarkan
              pengalaman dan pengamatan kami sebagai kelompok yang tumbuh
              dan berkembang di Semarang, bisa dikatakan hiruk-pikuk aktivitas
               Untuk dibaca bersama
              kebudayaan, tak terkecuali seni di sini, dipicu oleh empat faktor.

              Pertama, didorong modal besar.
              Bisnis dan aktivitas apa pun, sebut saja coffee shop, bistro, juga
              aktivitas seni yang dimodali korporasi tembakau ataupun pemerintah
              tidak pernah sepi. Selalu saja ada kegiatan yang, jika setarikan napas
              dengan aktivitas permodalan, pasti hidup, terlepas dari apakah ia sepi
              atau ramai pengunjung.

              Kedua, didorong trend.
              Mewakili trend tertentu modal aktivitas untuk menyusup ke dalam
              kelas tertentu. Trend co-working, start up, dan belakangan ini juga
              creative hub misalnya, tetap akan dilakukan di sini, meskipun model
              bisnisnya masih menjadi bahan perdebatan. Ini serupa juga dengan
              genre musik, mulai dari folk hingga dangdut patah hati a la Didi
              Kempot dan turunannya.

              Ketiga, aktivisme iseng.
              Aktivisme iseng ini biasanya dilakukan para mahasiswa tingkat akhir,
              dengan rentang usia aktif dua hingga empat tahun di sepanjang masa
              hidup mereka sebagai macan kampus, hingga lulus atau di-drop out.
              Meski usianya sebentar, biasanya aktivitasnya cukup segar.


              Terakhir, kegiatan yang diinisiasi kelompok-kelompok militan idealis.
              Sayangnya, kelompok seperti ini cukup jarang di Semarang, dan jika pun
              ada, umumnya kegiatannya telanjur dilabeli cukup serius, dan biasanya
              juga tidak tahu trend, apalagi model bisnis yang sedang berkembang.



                                                                       Adin
   301   302   303   304   305   306   307   308   309   310   311