Page 307 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 307
286 Berbeda dengan co-working, yang sejak awal lahir satu paket dengan
model bisnis, ruang seni maupun komunitas sering diciptakan oleh
dorongan impulsif. Jadi, jarang terbayang model bisnis, apalagi
pasar yang hendak dituju. Hal ini juga menjadi problem Hysteria yang
awalnya berkeyakinan memasok ragam ekspresi seni, tidak hanya yang
menjadi arus utama di Semarang. Semangat “melawan pasar” dan
mencipta pasar inilah yang belakangan dianggap sebagai sesat pikir
Untuk dibaca bersama
yang indah dan membuat Hysteria berjuang cukup keras ketika harus
menyesuaikan diri pada konteks kekinian. Ringkasnya, pasar tidak
usah dilawan, tetapi dituruti, dan nanti, sekali waktu, dibelokkan,
senada dengan Roy Wagner dalam Invention of Culture, bahwa untuk
migrasi, nilai dan kebudayaan berpijak pada yang sudah ada dulu,
bukan dari kehampaan budaya sehingga bentuknya sama sekali tidak
bisa dimengerti.
Inilah kredo pertama Manifesto Tulang Lunak Bandeng Juwana. Frasa
ini dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai kolektif seni yang tumbuh
dalam mitos kota dagang dan jasa, komunikasi biasanya diawali
dengan ono dite rak? (Jawa: ada uangnya enggak?) Harus banyak
adaptasi supaya berkelanjutan. Tulang lunak bandeng Juwana sendiri
merupakan oleh-oleh khas Semarang yang sudah pasti tidak berasal
dari Semarang. Juwana adalah nama kecamatan di Kabupaten Pati,
tapi di Semarang lah bandeng Juwana mendapatkan ketenaran.
Sebagaimana Wingko Babat (konon berasal dari Babat), Soto
Bangkong, dan Kelompok Wayang Orang Ngesti Pandowo, kesemuanya
itu bukan berasal dari Semarang. Tidak perlu mengembangkan
kebudayaan yang asli dan orisinil karena sejak era Hindia Belanda,
Semarang telah menjadi etalase produk-produk Jawa bagian tengah.
Jika merunut pada karakter umum kota ini, yang tidak Jawa-Jawa
amat meskipun punya beban sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah,
identitas kota menjadi serba-gamang karena jantung kebudayaan
Jawa masih diyakini berada di Surakarta dan Yogyakarta. Ini bisa
dilihat di pesta-pesta pernikahan di Jawa Tengah, yang banyak
mengambil kultur Surakarta, alih-alih mencari identitas khas Jawa
pesisiran. Eklektisisme justru menjadi spirit kota ini sejak awal.
Manifesto Seni Tulang Lunak Bandeng Juwana

