Page 104 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 104
Seni Pemrograman Kegiatan Seni di Alam
Dengan keterkaitannya dengan alam—yang menjadi markas serta 83
ruang berkarya kolektifnya—beberapa kerja artistik yang berjangkar
pada topografi daerahnya ini mengingatkan kita sebagaimana praktik
artistik pada budaya leluhur. Mengelola keberlimpahan alam sebagai
praktik artistik kami temukan pada kolektif seperti JaF, Rumah Budaya
Sikukeluang (Pekanbaru, 2011) dan Pasirputih.
13
menjadi jalan yang mereka tempuh sebagai bentuk aktualisasi ma
Rumah Budaya Sikukeluang, lewat program seperti kampanye
#melawanasap, Dinas Kerimba dan Lab Kiblat, mengoptimalkan hutan
Untuk dibaca bersa
Rimbangbaling sebagai isu dan ranah kerja artistik mereka. Kesenian
kekuatan kolektif yang berhadap-hadapan dengan kebijakan
politik pemerintahan, kerja lembaga swadaya masyarakat, dakwah
keagamaan, hingga perlakuan perusahaan swasta—terutama dalam
perihal perebutan sumber daya alam dan tanah.
Seni pemrograman kegiatan seni di alam ini dapat dibaca sebagai
perkembangan lanjutan dari seni aktivisme, yang dulu berwujud
demonstrasi dengan seni grafis, seni performans dan seni ruang
publik. Ketanggapan seni aktivisme atau seni politis kolektif-kolektif
14
seni ini direntangkan secara jangka panjang dan berkala lewat
program-program seni tahunan, bulanan, hingga mingguan. Dengan
cara ini, amnesia akan tema dari letupan-letupan seni aktivisme
yang bergerak sebatas simbolis pada sekali waktu dicoba untuk
dihindarkan. Kelintasdisiplinan yang melatarbelakangi praktik ini juga
menghasilkan kecenderungan artistik yang non-representasional.
Ada pun kerepresentasian merupakan khas pelatihan dari akademi
seni rupa. Sementara, seni pemrograman kegiatan seni tersebut hadir
secara riil atau non-representasional.
Lih. Muhammad Sibawaihi, “Cerita dari Pasirputih,” dalam buku ini (hlm. 207)
13
14 Lih. Hendro Wiyanto, “Kreatifitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme,” dalam buku ini (hlm. 105).
Gesyada Siregar

