Page 99 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 99
78 di ruangnya masing-masing. Apabila dulu orang dengan kepandaiannya
membuat barang pecah-belah sendiri untuk kebutuhan hariannya serta
mengelola sumber daya dari ternak, kebun dan masyarakatnya, sekarang
orang-orang di kolektif ini menggunakan kemampuan manajerial,
organisasional dan diplomasinya untuk menyelenggarakan program
seni yang menghidupinya. Maka dari itu, penelusuran ini sepertinya akan
lebih kaya jika kita mencoba melihat bagaimana posisi/peran seni dalam
Untuk dibaca bersama
praktik-praktik kolektif yang beragam ini, baik dari praktik institusional/
keorganisasiannya hingga praktik artistiknya.
Seni Kolektif Berbasis Kesamaan Medium dan Isu
Pernyataan artistik sebuah kolektif cenderung mudah dibaca apabila
strategi artistik mereka berangkat dari tipe medium serta isu yang
menjadi ketertarikan bersama para anggotanya. Medium sebagai
pengikat ini bisa ditemukan pada kolektif seni House of Natural Fiber
(HONF) di Yogyakarta (1999), serta Lifepatch dan Waft Lab di Surabaya
(2011), yang berfokus pada ‘oprek-oprek’ seni dan teknologi. Lalu,
di Majalengka, yang merupakan wilayah penghasil genteng terbesar
di Jawa Barat, Jatiwangi art Factory (2005) bermain-main dengan
genteng serta tanah sebagai medium dan budaya. Di Jakarta, para
pelukis potret bergabung dan mendirikan TROTOARt (2001), sementara
sejumlah pegiat seni grafis mendirikan Grafis Huru Hara (2012), seperti
juga rekan-rekan mereka di Yogyakarta mendirikan sejumlah kolektif
seni grafis seperti Grafis Minggiran (2001) dan Krack! Studio (2013).
Lebih lanjut, para pegiat street art di Jakarta mendirikan Gardu House
(2010), sementara pegiat fotografi di Yogyakarta mendirikan Ruang
MES 56 (2002).
Sementara itu, isu sebagai pengikat dapat kita jumpai pada Ace
House Collective di Yogyakarta (2011), yang berfokus pada isu budaya
populer. Di Jakarta, ruangrupa (2000) berfokus pada isu identitas
kekotaan dan daerahnya, seperti juga Pasirputih di Lombok (2009),
Ladang Rupa di Bukittinggi (2015), Gubuak Kopi di Solok (2011),
Hysteria di Semarang (2004) dan Serbuk Kayu di Surabaya (2011).
Bagai Melihat Jalinan Ampang: Mencari di (ke) Mana Seninya dalam Praktik Kolektif di Indonesia

