Page 108 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 108

Eksperimentasi Kelembagaan Kolektif Seni untuk
              Mengambil Peran di Ekosistem Kotanya                            87
              Banyak kolektif memfungsikan dirinya untuk menghidupkan medan
              seni rupa di kota mereka di tengah absennya insitusi galeri dan
              museum seni yang terbuka untuk diri mereka. Ibaratnya “yang penting
              ada dulu dan heboh dulu, dan gimana bisa mengakomodir sebanyak-
              banyaknya pelaku seni di jaringannya.” Ruang-ruang ini di antaranya
               Untuk dibaca bersama
              adalah TUDGAM (Kuningan, 2013); Ruang Alternatif (Cirebon, 2015);
              Kedubes Bekasi (2015); Ruang Atas (Solo, 2015); Cata Odata (Ubud,
              2015); Degil House (Medan, 2018); Omah Balong (Kuningan, 2019); SIKU
              Ruang Terpadu (Makassar, 2019); Bilik Bersenyawa (Banjarmasin,
              2017); BERGERAK.ETC (Balikpapan, 2017);  Sindikat Milenial
              (Pontianak, 2017); Sandwich Attack (Tangerang, 2015); Rumah Mesra
              (Sukabumi, 2015).

              Menilik dari usianya, kolektif-kolektif tersebut berada dalam fase
              ‘balita’ hingga menjelang ‘akil baliq.’ Mereka membuka diri pada
              berbagai jenis peluang artistik, mengadopsi dan menegosiasikan
              model kolektif dari yang terdahulu sembari membangun jati diri dari
              kesukaan dan ketidaksukaan yang mereka temukan dari pengalaman
              kolektif mereka dalam mengerjakan program. Kolektif-kolektif itu
              pun dirintis oleh generasi yang lahir pada dekade terakhir Orde
              Baru, sehingga nawaitu mereka dalam menggencarkan pernyataan-
              pernyataan artistik dalam program-programnya kolektif tersebut
              lebih mengedepankan isu interdisipliner, keragaman, semangat
              kesekarangan, seni rupa yang populer (seni dwimatra, digital,
              video, komik dan seni jalanan) dan musik alternatif.  Seringkali
              juga, sebagai sebuah titik temu, kolektif-kolektif tersebut memiliki
              unit usaha minuman dan makanan yang digarap oleh seniman yang
              menjadi anggotanya, dan yang kemudian disajikan sebagai penganan
              yang artistik. Ada pun kerja-kerja internal kolektif ini sebagai
              kolektif seniman kemudian lebih sebagai programmer, fasilitator,
              organisator, humas, manajerial dan penyedia ruang. Mereka menjadi
              perantara antara pihak seniman, pemangku kepentingan, pendukung
              keberlangsungan, dan khalayak seni.

                                                                  Gesyada Siregar
   103   104   105   106   107   108   109   110   111   112   113