Page 131 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 131

110  di Yogyakarta, yakni kelompok Apotik Komik (1997) dan Taring Padi
             (1998).  Pada penghujung 90-an, kesadaran akan keterbukaan dan
                   8
             pembebasan ruang khalayak—isu nyata yang muncul dan sekaligus
             dipraktikkan melalui aksi-aksi demonstrasi mahasiswa dan kalangan
             muda yang turun ke jalan menjelang jatuhnya rezim Orde Baru,
             Mei 1998—mengerucut menjadi suatu aktivisme para seniman di
             ruang publik kota, dengan berbagai bentuk representasinya. Praktik
               Untuk dibaca bersama
             aktivisme dan perupa-perupa aktivis umumnya mulai ditengarai dan
             disebut-sebut pada pertengahan 1980-an. Seni aktivis ditengarai oleh
             Lucy Lippard, kritikus seni pendiri beberapa kolektif seniman feminis,
             sebagai praktik di mana “sejumlah elemen dari seni itu berlangsung
             di ‘luar dunia seni’ (outside world) meliputi beberapa praktik
             pembelajaran dan media, juga pengorganisasian komunitas dan para
             pekerja, karya politis di ruang khalayak, serta pengelolaan di dalam
             komunitas seniman.” Seni aktivis adalah “lawan praktik-praktik artistik
             yang, meski dimaksudkan atau terang-terangan berkonten politis,
             pemaknaannya tetap bergantung pada ruang museum.” 9


             Sementara bingkai kelembagaan seperti museum yang mengabadikan
             pesan pada lukisan anti-fasisme seperti lukisan Guernica—atau karya-
             karya politis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), misalnya—absen,
             aktivisme dalam perkembangan seni rupa di Indonesia, didefinisikan
             sebagai upaya keterlibatan seniman kontemporer untuk menganalisa
             problem-problem sosial—dengan pendekatan yang tidak lagi intuitif,
             melainkan secara kritis dan rasional—dan menampilkan karya mereka
             sebagai bentuk  kesadaran/kepedulian sosial politik tiap individu
             di ruang terbuka. Salah satu isu sosial yang kerap kali dimunculkan
             perupa di Indonesia pada masa itu adalah soal kerusakan lingkungan
             dan hubungan antara manusia dengan alam.






             8  Makalah Ugeng T. Moetidjo, yang beberapa bagiannya saya kutip di sini, disajikan sebagai bahan
             presentasi untuk debat dua kelompok itu. Acara itu diselenggarakan sebagai “projek seni ruang
             khalayak pertama ruangrupa,” di Japan Foundation, Jakarta, 17 Juni 2000.
             9  Gregory Sholette, “News from Nowhere: Activist Art and After: A Report from New York City 9,” dalam
             Third Text 45, (Winter 1998-99), hlm. 49.
             Kreativitas tanpa Nama: Aktivisme dan Kolektivisme
   126   127   128   129   130   131   132   133   134   135   136