Page 184 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 184

muda setempat menggali narasi-narasi alternatif dari berbagai sudut
              kota.  Di Banda Aceh, Tikar Pandan menggelar berbagai kegiatan   163
                  5
              literasi dan seni, terutama yang terkait dengan isu-isu hak asasi
              manusia di kota mereka.  Sementara itu, Komunitas Pojok, ruangrupa
                                   6
              dan Ruang MES 56 mencoba keluar dari konsensus seni rupa modernis
              yang selama ini membayangi ruang-ruang pamer di kota tempat
              tinggal mereka.
               Untuk dibaca bersama

              Periode ini didokumentasikan oleh survei FIXER pada 2010, di mana
              kemunculan berbagai inisiatif seni ini berperan untuk, “memperbaiki
              kondisi medan seni rupa yang dianggap tidak ideal, dengan mencoba
              melengkapi, membangun dan mengembangkan bentuk infrastruktur
              dan praktik seni rupa baru yang berasal dari kebutuhan percepatan
              gagasan seni rupa dan kondisi sosial-politik di masyarakat.”
                                                                7
              Pandangan ini kemudian diamplifikasi kembali oleh wawancara yang
              dilakukan oleh Nuraini Juliastuti kepada Ade Darmawan dalam sebuah
              artikel yang ditulis pada 2012. Dalam artikel tersebut tercatat bahwa
              berbagai aktivitas organisasi budaya independen ini berfungsi sebagai
              “respons terhadap situasi darurat” sekaligus mengisi lubang-lubang
              kebutuhan ekosistem seni yang tidak mampu disediakan oleh negara. 8

              Sepuluh tahun terakhir, ketika berbagai infrastruktur seni dibangun,
              peran pemerintah dan swasta dalam mendanai kegiatan seni semakin
              besar, akses terhadap informasi dan pengetahuan semakin terbuka,
              kolektif seni pun hadir dalam konteks yang sangat berbeda. Saat
              ini kolektif seni dapat tumbuh menyebar, tidak hanya terpusat di
              kota-kota besar saja, melainkan juga di wilayah perdesaan. Sebagai
              akibatnya, terjadi pula keragaman praktik artistik dan strategi
              bertahan yang disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi di masing-
              masing tempat.


              5  Beberapa buku terkait antara lain Pasar Terong Makassar: Dunia Dalam Kota (2013), Makassar Nol
              Kilometer (2014), Kota Diperam Dalam Lontang/City Soaked In Drinking Stall (2018).
              6  Lih. Putra Hidayatullah, “Dari Tikar Pandan untuk FIXER,” dalam buku ini (hlm. 61).
              7  Ade Darmawan, “Memperbaiki Mata Rantai Siklus Gagasan,” dalam katalog FIXER: Pameran Ruang
              Alternatif & Kelompok Seni Rupa di Indonesia (selanjutnya FIXER 2010), hlm. 8-13.
              8  Nuraini Juliastuti, “A Conversation on Horizontal Organization,” dalam Afterall: A Journal of Art,
              Context, and Enquiry 30 (2012) hlm.118-125.
                                                                  Ayos Purwoaji
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189