Page 183 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 183

162  program ini adalah agar militer dapat “secara langsung mengenal
             rakyat, adat istiadat, budaya dan daerahnya.” Pada praktiknya,
             kehadiran personil militer di perdesaan justru membawa beberapa
             dampak jangka panjang sebagai alat legitimasi penguasa melalui
             intervensi non-fisik, antara lain dengan diadakannya berbagai
             pameran pembangunan di desa-desa, yang menjadi corong
             propaganda ideologi developmentalisme pemerintah. Selain itu,
               Untuk dibaca bersama
             kehadiran militer di perdesaan dijadikan sebagai alat kontrol sosial
             untuk mengawasi aktivitas politik masyarakat desa.  Hal tersebut
                                                         3
             kemudian berimbas pada ekspresi kultural masyarakat yang
             sesungguhnya sarat dengan kritik sosial seperti kesenian ludruk dan
             ketoprak, dua bentuk pertunjukan tradisional populer di Jawa Timur,
             yang kemudian diawasi dengan ketat oleh aparat militer.


             Dalam konteks semacam itulah berbagai ruang alternatif dan
             kelompok seni tumbuh dan dengan kesadaran penuh memposisikan
             diri berseberangan dari otoritas pemerintah. Meskipun muncul
             momen perayaan atas kebebasan berekspresi setelah rezim Orde Baru
             tumbang pada 1998, keinginan untuk menjadi independen dari campur
             tangan penguasa masih terasa begitu kuat bagi sebagian kelompok
             seni yang muncul pada saat itu hingga beberapa tahun setelahnya.

             Beberapa kolektif atau kelompok seni yang muncul sesaat setelah
             Reformasi 98 antara lain adalah HONF (1999), KUNCI Study Forum &
             Collective (1999), Tanahindie (1999), ruangrupa (2000), Komunitas
             Pojok (2000), Tikar Pandan dan Ruang MES 56 (2002). Mereka semua
             mengusung kesadaran kritis atas apa yang sebelumnya dianggap
             mapan. Melalui berbagai kegiatan lokakarya, diskusi dan penerbitan,
             KUNCI mengajak anak-anak muda di Yogyakarta mempertanyakan
             kembali berbagai aspek dalam kehidupan sehari-hari yang dipandang
             sebagai rutinitas  hingga otoritas sejarah yang selama ini dimiliki oleh
             penguasa.  Di Makassar, kelompok Tanahindie mengajak anak-anak
                      4

               Isnu Novia Setiowati, “Perkembangan ABRI Masuk Desa (AMD) Tahun 1980-1998,” dalam Jurnal Avatara
             3
             Vol. 3, No. 1 (Surabaya: Universitas Negeri Surabaya, 2015).
             4  Beberapa proyek artistik terkait antara lain Juminahan Neighborhood (2006) dan Santan Ketumbar
             Jintan: Sejarah Orang India di Yogya (2011).
             Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188