Page 204 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 204
Pandangan di atas tidak lantas mendudukkan wacana desa-kota
dalam posisi berlawanan, mengingat arus informasi dan akses 183
terhadap teknologi semakin melampaui batasan-batasan geografis.
Dalam tulisan ini, desa ditempatkan dalam posisi ideologis, di
mana kolektif seni berbasis perdesaan seharusnya dapat dilihat
sebagai alternatif terhadap peta kesenian berbasis perkotaan yang
selama ini lebih banyak disorot dalam kanal-kanal kebudayaan
Untuk dibaca bersama
populer. Dengan memulainya di desa, kerja-kerja kesenian dapat
dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai alat penyadaran yang
terkait dengan masalah-masalah sosial, laboratorium kebudayaan
bagi sumber daya kultural yang berkelanjutan, serta menjadi ruang
bagi bertumbuhnya ekspresi kerakyatan.
Beberapa tahun dari sekarang, kita bisa membayangkan akan
semakin banyak lagi kolaktif-kolektif seni yang muncul di wilayah
perdesaan di Indonesia. Berbagai kolektif seni perdesaan tersebut
dimotori oleh anak-anak muda yang bersemangat untuk mengolah
material kebudayaan yang ada di desa tempat mereka tinggal.
Praktik kerja dan artistik mereka, sebagaimana peribahasa Sikka,
meski terhubung dengan perkembangan seni rupa dunia, namun
merupakan sesuatu yang tumbuh dari konteks dan realitas sosial
yang dihadapi sehari-hari. Sehingga, melalui jalur dan tikungan
logika yang berbeda, mereka dapat mendefinisikan dan menciptakan
museum sendiri, menyusun lumbung pengetahuan sendiri,
melahirkan sekolah seni sendiri, merancang festival seni sendiri, dan
yang paling penting adalah berusaha untuk mewujudkan basis dan
arah kebudayaan sendiri. 25
Sidoarjo, 2021
25 Ayos Purwoaji, “Museum Kosong dan Kesenian Kita Setelah Pandemi,” dalam Seni di Tengah Pandemi: Siasat
dan Strategi Seni Menghadapi Ancaman Wabah COVID-19 (Surabaya: Dewan Kesenian Jawa Timur, 2020).
Ayos Purwoaji

