Page 203 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 203

182  Pandangan tersebut lantas memunculkan bayangan bahwa kolektif-
             kolektif yang berada di kota besar dapat bertahan lebih lama dan
             mampu menjalankan program lebih ajek karena kemudahan akses
             terhadap informasi dan pendanaan. Saat ini, rasanya pandangan
             semacam itu perlu dikalibrasi ulang, karena paradigma tersebut
             menempatkan kolektif seni seolah-olah hanya dapat bertahan
             melalui sokongan faktor eksternal, seperti proyek swasta, bantuan
               Untuk dibaca bersama
             pemerintah, atau donor asing. Padahal, praktik kolektif-kolektif seni
             yang tumbuh di wilayah perdesaan telah memberi adanya sebuah
             keyakinan bahwa terdapat sumber daya yang selama ini belum
             pernah dipetakan dan dimanfaatkan.

             Praktik yang dilakukan oleh berbagai kolektif di atas menjadi bukti
             bahwa kerja-kerja seni berbasis perdesaan sangat mungkin dilakukan
             dan menjadi semakin relevan untuk dikembangkan di masa depan.
             Dengan cara tersebut, aktivitas kesenian dapat berjalan tanpa
             harus bergantung pada sirkuit seni global. Namun pergeseran ini,
             sebuah arus yang terjadi dari kota ke desa, mensyaratkan sebuah
             pergeseran yang fundamental dari paradigma kelangkaan (scarcity)
             ke paradigma keberlimpahan (abundance). Pandangan bahwa desa
             tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki sumber daya dan kesempatan
             sebanding dengan kota, perlu dipertanyakan ulang (atau ditolak).
             Karena, toh, selama ini justru kota lah yang lebih banyak bergantung
             pada sumber daya desa, mulai dari manusia, pengetahuan, hingga
             tanah dan air. Membayangkan relasi tersebut, teringat dengan
             sebuah mural dalam pameran alat-alat pertukangan yang dikuratori
             oleh arsitek-seniman Eko Prawoto beberapa tahun lalu bahwa, “Desa
             merupakan sumber pengetahuan yang hampir terlupakan karena
             pemahaman kita yang merasa bahwa hanya kotalah yang dianggap
             mengalami perkembangan.”









             Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208