Page 202 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 202

Penutup
              Kemunculan kolektif dan kelompok seni berbasis perdesaan adalah   181
              perkembangan yang menarik. Jika dua dasawarsa lalu pertumbuhan
              kolektif dan ruang alternatif di perkotaan didukung oleh keberadaan
              institusi dan akademi yang memusat, maka pergeseran pertumbuhan
              kolektif di wilayah perdesaan dapat dilihat sebagai gejala
              desentralisasi praktik dan teritori kesenian. Selain itu, sebetulnya
               Untuk dibaca bersama
              desa memiliki landasan budaya hidup komunal yang menjadi
              signifikan bagi kerja-kerja kolektif seni. Secara umum, masyarakat
              Indonesia mengenal frasa-frasa seperti “gotong royong” dan
              “nongkrong,” yang masih jamak ditemui dalam kehidupan perdesaan
              yang berdenyut lambat. Bagi anak-anak muda yang bergiat di kolektif
              Sudut Kalisat, misalnya, kesadaran berkumpul dan berkesenian di
              antara mereka muncul karena mereka sedang gângghuk, sebuah kata
              dari bahasa Madura yang bermakna “memanfaatkan waktu luang
              yang tak terbatas.”








                   Ketersebaran kolektif seni di Indonesia dewasa ini
                 juga membuktikan bahwa tegangan antara pusat dan

                         pinggiran semakin tidak relevan lagi.










              Ketersebaran kolektif seni di Indonesia dewasa ini juga
              membuktikan bahwa tegangan antara pusat dan pinggiran semakin
              tidak relevan lagi. Pada masa rezim Orde Baru, kebijakan yang
              sentralistik telah memunculkan problem psikogeografis. Ada
              kelompok-kelompok seniman yang berada dekat dengan kekuasaan
              namun ada juga kelompok seniman yang jauh dari pusat kekuasaan.

                                                                  Ayos Purwoaji
   197   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207