Page 201 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 201
180 Melalui pembagian ruang semacam ini, kolektif seni yang bertumbuh
pada ekosistem perkotaan bersiasat dengan keterbatasan ruang atau
bahkan fenomena gentrifikasi—kenaikan harga sewa/beli hunian.
Sebuah kolektif di perkotaan dapat berpindah-pindah alamat dari satu
rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain demi menyiasati biaya sewa
yang selalu naik. Dalam setiap perpindahan tersebut, selain harus
beradaptasi dengan ketersediaan ruangan yang ada, kolektif seni juga
Untuk dibaca bersama
dituntut untuk dapat dengan cepat menyesuaikan diri dengan karakter
lingkungan dan warga di sekitarnya.
Sementara bagi kolektif seni yang tumbuh di perdesaan, persoalan
ruang menjadi berbeda karena secara umum lebih bersifat menetap.
Sebagian kolektif berbasis perdesaan mengakuisisi ruang melalui
pemberian atau memanfaatkan ruang yang tersedia sehingga
terhindar dari isu gentrifikasi dan kenaikan harga sewa. Ruang yang
digunakan biasanya juga terikat secara sosio-historis dengan warga
dan lingkungan di sekitarnya sehingga tidak memerlukan penyesuaian
lagi. Kegiatan seni, seperti pameran, festival, lokakarya, diskusi, atau
pemutaran film bahkan dapat dilakukan di mana saja menggunakan
rumah-rumah yang dimiliki warga, sawah, ladang, masjid, lapangan,
bahkan jalanan.
Perbedaan karakter orientasi dan pemanfaatan ruang tersebut
kemudian juga mempengaruhi bentuk organisasi dan praktik artistik
antara kolektif seni di perkotaan dan kolektif seni di kota kecil atau
perdesaan. Kolektif seni yang tumbuh di perkotaan biasanya memiliki
“orientasi ruang tamu,” yang lebih bersifat transaksional, kolaborasi
atau persinggungan jangka pendek, dan memiliki pembacaan yang
dinamis, seiring problem sosial perkotaan yang berganti-ganti dengan
cepat. Sementara itu, kolektif yang berkembang di kota kecil atau
perdesaan biasanya memiliki “orientasi dapur,” yang lebih banyak
membicarakan permasalahan ruang hidup, ketahanan kultural, dan
umumnya menggarap isu yang lebih statis dan berkelanjutan.
Menggaru Tanah, Menyebar Benih: Sebaran Geografis Kolektif Seni di Indonesia 2010–2020

