Page 264 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 264
Obrolan selama tiga jam melalui aplikasi Zoom berjalan cukup baik.
Gangguan teknis terjadi sesekali saat hujan mulai turun, membuat 243
sebagian responden terpental atau suara menjadi tidak jelas. Makna
tentang ruang, keberlanjutan ekonomi mandiri dan gagasan, juga
regenerasi dan aspek krusial dalam konteks keberlanjutan menjadi
poin-poin pembahasan kami. Obrolan ini merupakan pemantik awal
untuk setidaknya bisa terus membicarakan hal-hal tersebut, supaya ke
Untuk dibaca bersama
depan bisa memiliki format-format baru untuk berbagi ruang, siasat,
pengalaman, pengetahuan dan, tentunya, sumber daya atau potensi
yang dimiliki.
Pembicaraan di bawah ini telah disalin, diterjemahkan dan disunting
untuk memperjelas konteks tanpa mengurangi substansi pembicaraan.
Ajeng Nurul Aini (Ajeng): Oke! Jadi, dari hasil survei formulir FIXER
yang kita sebarkan itu. Bicara tentang ruang, ternyata sebagian besar
memang memiliki ruang fisik. Menurut kalian, apakah masih penting
memiliki ruang fisik dalam kerja kolektif saat ini? Di 2010, kepemilikan
ruang menjadi penting di konteks saat itu. Lalu, di saat ini, karena
1
adanya pandemi, apakah ruang fisik itu masih diperlukan? Silakan
bagi yang ingin menjawab duluan.
Heri Budiman (Heri): Sikukeluang sendiri kebetulan, kalau soal ruang
fisik, tidak menyewa. Kebetulan tempat saya sendiri yang menjadi
Rumah Budaya Sikukeluang. Jadi, tidak ada sewa. Dan, menurut saya,
tetep masih penting. Walaupun sampai sekarang kita belum berhasil
atau belum bisa mewujudkan komunitas yang formal. Dalam arti kata,
sampai saat ini kita juga tidak punya legalitas seperti akta notaris.
Kenapa ruang fisik penting untuk Sikukeluang? Karena Sikukeluang itu
seperti hook dari berbagai macam komunitas. Seperti Husin, misalnya,
dia juga punya Teater Lorong. Kecuali Acong, yang memang murni
Sikukeluang. Atau, Ade, yang juga punya serempak.org. Jadi, kita tidak
punya aturan baku. Tidak punya kartu anggota. Tidak punya susunan
1 Ade Darmawan,”Memperbaiki Siklus Mata Rantai yang Putus,” dalam katalog FIXER 2010. hlm. 8-13.
Ajeng Nurul Aini

