Page 263 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 263
242 Gimana ya, bayar listrik/internet bulan depan? Belum
lagi bayar sewa kontrakan! Ya, mesti siap-siap angkut
barang kalau diusir atau disuruh pindah sewaktu-waktu.
“ Program ini mesti terus lanjut! Pakai format apa lagi, ya?!
Gimana supaya tetap bisa punya pemasukan yang stabil? Ayo bikin
proposal! Jangan lupa disimpan sebagian! Duh, enggak nyambung,
nih! Bikin usaha apa ya, enaknya? Lahan depan kosong, bisa
Untuk dibaca bersama
diapain, ya? Wah! Ada banyak orang, nih! Mungkin ada yang bisa
diberdayakan. Besok kita gajian, yeay! Punya ruang tapi enggak
punya uang! Puasa dulu, nih! Kok, enggak ada yang respons grup
Whatsapp, ya?! Ah, mungkin itu hanya perasaanmu saja! Awas,
tetangga keberisikan! Jangan lupa sowan ke Pak RT!”
Sebuah obrolan mengenai praktik kolektif dan upaya keberlanjutannya
bersama Ajeng Nurul Aini, Angga Wijaya dan Gesyada Siregar (Gudskul
Ekosistem, Jakarta), Adhari Donora, Heri Budiman dan Husin (Rumah
Budaya Sikukeluang, Pekanbaru), Adin (Hysteria, Semarang), Anang
Saptoto (Ruang MES 56, Yogyakarta), Bunga Siagian (Jatiwangi art
Factory, Majalengka), Hairun Nisa (Sanggar Anak Akar, Jakarta),
Leonhard Bartolomeus (kurator seni rupa), Muh. Rais dan Rahmat
Arham (SIKU Ruang Terpadu, Makassar) dan Rahmadiyah “Ama” Tria
Gayathri (Forum Sudut Pandang, Palu).
Gagasan utama FIXER 2010 adalah isu mengenai bagaimana
ruang dipertahankan, diperebutkan dan digunakan pada proses
perkembangan ruang publik pasca 1998 menjadi refleksi dalam
bagian ini. Satu dekade sudah berlalu (setidaknya, pada saat
proses buku ini dibuat), tentu banyak yang sudah terjadi dalam
perkembangannya; ada yang lanjut dan tidak, ada juga yang asyik-
asyik saja sendiri. Pertanyaannya mungkin bukan hanya bagaimana
bisa berumur panjang atau supaya bisa berumur panjang. Tetapi,
bagaimana ke depannya bisa terus saling terhubung, mendukung dan
berbagi sumber daya?
Sekarang atau Sepuluh Tahun Lagi?

