Page 268 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 268

penampilannya serem-serem gitu, terus tindikan segala macem gitu.
              Akibatnya, kita diusir beberapa kali. Ada kecurigaan atas kristenisasi   247
              juga. Itu membuat kami diusir, sampai pada akhirnya memang kami
              mencari jalan lagi, dan sampai akhirnya membuat fundraising untuk
              Sanggar Anak Akar. Akhirnya, kami bisa bangun rumah di tahun
              2000-an. Nah, kebetulan hal yang paling disukai anak-anak itu, kan,
              pendekatan lewat kesenian, musik dan teater. Juga patung dan sablon.
               Untuk dibaca bersama
              Nah, pendekatan yang paling berhasil buat anak-anak pinggiran itu,
              ya lewat kesenian. Tentu, ruang fisik akhirnya menjadi penting. Karena
              Sanggar Anak Akar ini, kan, juga menjadi rumah. Karena, memang,
              pada akhirnya banyak anak-anak yang boleh tinggal bersama kami.
              Jadi, sampai saat ini, Sanggar Anak Akar mencoba membuat sebuah
              sekolah alternatif. Dan, memang sudah banyak sekali ruangannya.
              Kalau sebelum kena gusur, ya, waktu tahun 2017, kami punya ruangan
              studio musik, ada ruang seni rupa, ada aula teater. Seperti itu. Sampai
              akhirnya terkena gusur. Sekarang sedang membangun kembali
              ruangan-ruangan itu.


              Ajeng: Oke. Thank you, Nisa! Tapi, rumah yang digusur itu udah jadi
              milik sendiri juga ya, Nisa?


              Nisa: Sudah.


              Ajeng: Oke. Mungkin sebelum ke Ama, boleh sedikit dari Mas Rangga
              kali, ya? Karena MES 56,  kan, terlibat juga di FIXER 2010. Mungkin
              Mas Rangga bisa sedikit menjelaskan, bukan cuma fungsi penting,
              tapi juga mungkin seperti yang tadi Angga bilang, adakah perubahan
              pandangan terkait ruang? Silakan, Mas Rangga!


              Rangga Purbaya (Rangga): …

              Ajeng: Yuhuu! Mas Rangga? Kok, ilang, ya? Hahaha! Oke, karena Mas
              Rangga gone, langsung ke Ama aja, ya? Silakan Ama! Mungkin, untuk
              konteks di Palu agak berbeda, ya.



                                                                 Ajeng Nurul Aini
   263   264   265   266   267   268   269   270   271   272   273