Page 266 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 266
Rahmat Arham (Rahmat): Dan, yang paling penting, buat main gaple,
sih. Hahaha! 245
Rais: Enggak ada, soalnya, gaple online. Hahaha!
Angga Wijaya (Angga): Menambahkan sedikit pertanyaan, ya.
Mungkin bisa juga (disampaikan) bagaimana mengaktivasi ruang
Untuk dibaca bersama
sekarang? Kondisi ruang sekarang irisannya banyak banget, kan? Kita
membayangkan juga ruang digital. Ruang-ruang fisik seperti apa yang
dibayangkan teman-teman kolektif untuk bisa berkelanjutan, gitu?
Adin: Gini, ya. Pertama-tama, kalau dianggap sebagai akumulasi
kapital, (ruang) itu memang penting. Karena itu adalah aset dan
properti. Terus, kalau dikaitkan dengan fungsi ruang, tidak selalu
perlu diaktivasi. Bahkan, untuk menyimpan alat-alat, kemudian
inventaris segala macam itu juga butuh ruang karena hampir setiap
kolektif punya alat produksi (sendiri). Itu akan memangkas biaya-biaya
sewa (sehingga uangnya bisa dialokasikan) untuk hal lain. Nah, ada
pertanyaan lanjutan; ruang ini apa, sih, sebetulnya? Apakah ruang
sebagai aset dan properti itu? Atau, ruang aktivasi gitu? Karena kalau
ruang diaktivasi, artinya ruang juga butuh pemrograman. Beda dengan
ruang yang difungsikan sebagai penyimpan aset.
Angga : Iya, memaknai ruang, bukan aktivasi aja, gitu.
Adin: Hysteria sendiri, sejak kita tidak masuk dalam “peta ruang”
dalam Pameran FIXER 2010, memaknai ruang itu penting dan tidak
penting. Tidak punya ruang juga enggak apa-apa asal ada tempat
untuk menyimpan aset. Tapi justru, ketika kita sudah berjejaring
dengan kampung-kampung—juga berbagai komunitas dan segala
bentuknya itu—akhirnya ruang itu bisa diciptakan di mana pun.
Aku juga mikir kalau sekarang orang-orang bisa berbisnis tanpa
menggunakan aset, apakah mungkin kita membayangkan ruang yang
kayak gitu juga? Misalnya, kayak Agoda, Gojek, segala macam itu,
Ajeng Nurul Aini

