Page 298 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 298
Rahmat: Mungkin nambahin sedikit soal konteks keberadaan SIKU
di Makassar sendiri, ya. Itu juga penting. Di Makassar ke tempat- 277
tempat seperti ini hitungannya juga baru, dan (yang) paling gampang
dilakukan itu soal apa yang terjadi di sekitar kami—di Makassar
sendiri, dalam hal ini—soal keseharian. Dari situ baru kami bisa
petakan gimana caranya untuk mengamankan ruang? Gimana caranya
praktik-praktik seperti ini bisa tetap ada? Karena semua program di
Ajeng: Sampe akhirnya kalian berkumpul di satu tempat—dari ma
sini juga belum ada yang berbayar kecuali dibikin unit usaha. Jadi,
begitu timbal baliknya; memikirkan formula yang cocok dan dicoba-
coba terus.
Untuk dibaca bersa
berbagai kolektif sebelumnya—menurut kalian itu udah ideal, belum?
Jadi, nambah sedikit.
Rahmat: Mungkin terlihat ideal, tapi di dalamnya juga tidak ideal-ideal
banget. Abstrak juga, sih. Hahaha!
Rais: Kekuatannya dari kegelisahan itu. Kalau udah ideal, kan tidak gelisah.
Rahmat: Karena kerjaannya nongkrong, sih. Apakah ideal itu
nongkrong, ya?
Ade: Mungkin kalau yang krusial itu karena kami base-nya nongkrong,
jadi nongkrong itu, kan, sekarang udah susah. Intinya, bukan di
nongkrong-nya. Tapi, kan, setelah nongkrong, banyak ide yang ingin
me-nongkrong-kan lagi. Jadi, bikin banyak acara. Itu, mungkin, yang
krusial saat ini. Karena belum bisa—kita, kan, masih fisik banget, nih;
harus ketemu. Jadi, masih terus belajar bagaimana teman-teman yang
ikut bergabung dan ikut melakukan kegiatan-kegiatan eksperimen
bersama kami juga—dan masyarakat juga—itu harus terus dipelajari
lagi lebih lanjut. Karena zamannya berubah, orang-orangnya berubah,
ide-idenya berubah, kepentingannya berubah, politiknya juga berubah,
dengan kapital-kapital yang berubah juga. Nah itu, mungkin, yang
krusial di Sikukeluang: berjejaring dengan teman-teman, saling
Ajeng Nurul Aini

