Page 294 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 294

Ajeng: Oke! Pernah juga, sih, baca dari statement-nya Sanggar Anak
              Akar kalau yang bikin Sanggar Anak Akar bertahan itu bukan uang, tapi   273
              jaringan. Karena kerjaannya dari jaringan semua, ya? Kita mau ingetin
              saja, sih, waktunya tinggal setengah jam lagi. Mungkin Ama, kalau mau
              nambahin boleh. Dan gue share satu pertanyaan terakhir abis ini. Ama
              silakan, kalau mau share.

               Untuk dibaca bersama
              Ama: Ya, kalau teman-teman di Sudut Pandang baru kepikiran bikin
              legal itu di 2017 dan memang secara sadar kami perlu bikin ini untuk
              akses-akses funding. Karena, dari sebelumnya memang ada beberapa
              program yang kemudian dihidupkan dan dibuat untuk ada profitnya
              demi menghidupi program lain. Dan itu sampai sekarang masih
              berjalan. Sepakat juga kalau sebenernya yang bikin kami bertahan
              bukan dari program yang punya profit itu—karena profitnya memang
              kecil banget dan fokusnya, buat operasional kegiatan lainnya. Tapi,
              terus ada juga jaringan yang secara personal bikin kami dapat kerjaan
              dan bikin semacam kesepakatan bersama. Contohnya kemarin, kami
              dapat satu project film dokumenter, terus kami ngajakin beberapa
              anggota yang fokusnya di film dan beberapa organisasi lain, seperti
              kampus, museum, dan sebagainya. Tapi, memang yang nyari duit dari
              kolektif kami. Jadi, ada semacam kesepakatan bahwa beberapa persen
              harus disumbang untuk komunitas. Dari sejak awal sih gitu. Akhirnya,
              program-program lain bisa hidup. Gitu aja, sih, caranya. Ada juga
              siasat, beberapa program yang secara sadar kami mau bikin komersial
              dan bisa mengakses duitnya ke corporate. Jadi, tidak terbatas nyari
              duitnya di donor luar atau di pemerintah. Kayaknya, hampir belum
              pernah, sih, sama pemerintah. Tapi, ada dua program yang memang
              funding-nya dari corporate kayak rokok gitu-gitu. Pengunjungnya
              juga tidak khusus; jadi luas, dan cara pendanaannya sama. Setelah
              programnya selesai, ada profit dibagi ke anggota, lalu sisanya di-
              saving ke komunitas dan program lain. Jadi ada tiga pembagian; ke
              teman-teman yang bekerja, terus ke kolektif ruang (buat bayar listrik,
              wifi), terus sisanya buat bayar program itu sendiri—buat running lagi.





                                                                 Ajeng Nurul Aini
   289   290   291   292   293   294   295   296   297   298   299