Page 319 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 319
298 Jika Memang Sudah Tidak Tertahankan Lagi untuk
Berhenti, Cukuplah Berhenti dan Jangan Nyinyir
terhadap Usaha Juniormu, yang Barangkali
Menempuh Lubang Yang Sama
Pandulah mereka supaya tidak mengulang kesalahan kita. Kita semua
sudah cukup banyak menyaksikan orang-orang yang berusaha cukup
keras lalu berhenti, entah apa pun alasannya.
Untuk dibaca bersama
Dan Terakhir, Berdoalah
Ini mungkin upaya terakhir. Siapa tahu keberuntungan dan momentum
itu datang tidak diduga karena keberhasilan tidak selalu linier dengan
usaha sungguh-sungguh. Upaya itu syariat, sementara hakikatnya
hidup tidak pernah terduga. Berdoa bagi yang masih percaya bisa
menjadi terapi yang bagus; syarat ketawakalan. Namun, bagi ateis
online, mungkin bukan berdoa kepada siapanya yang penting, tetapi
sikap keberserahan diri dan lebih menerima apa pun hasil dari apa
yang sudah diupayakan. Jadi, kegagalan pun bagian dari eksperimen.
Semuanya diterima jauh lebih legawa, alih-alih malah menyumbang
penyakit mental permanen bagi para pelaku seni. Sayang sekali jika
ada jiwa yang gila karena aktivisme; yang tadinya saluran katarsis, kok,
malah jadi sumber depresi. Ya, kan?
Sebagai penutup, manifesto ini merupakan upaya mencari metode
dan iman baru, terutama kolektif-kolektif seni dengan ekosistem
yang timpang, yang sering melihat kesempurnaan ada pada kota-kota
arus utama. Justru keberanian mencari jalan-jalan baru membuka
peluang kemungkinan praksis yang lebih menggairahkan di daerah-
daerah. Ini perlu diapresiasi, alih-alih dicap hanya sebagai pengekor
dan dianggap tidak memberi wacana baru. Pembacaan terhadap
bentuk bisa sangat menyesatkan. Sudah saatnya praktik kolektif seni
seperti ini dibaca secara antropologis. Seni kontemporer, jika kita
analogikan dengan agama, mempunyai dua syarat utama, yakni iman
(sebagai seperangkat nilai dan ajaran), dan ritual (praktik). Dalam
ekosistem berbeda, gagasan ini sudah semestinya bermutasi, berikut
Manifesto Seni Tulang Lunak Bandeng Juwana

