Page 324 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 324
menggerakkannya, seperti kata Doreen Lee, “telah hidup dalam dunia
pasca Soeharto tanpa misteri lagi.” 303
3
Fokus artikel ini diajukan untuk mengeksplorasi sejauh mana
pergulatan tentang sustainabilitas ini mempengaruhi watak
institusionalisasi produksi budaya yang dilakukan. Apakah tujuan yang
dirancang ketika memikirkan tentang sustainabilitas dalam sektor
Untuk dibaca bersama
budaya? Apakah imajinasi masa depan di dalamnya mampu mewadahi
kepentingan banyak orang? Seberapa jauh eksperimen dan mekanisme
bertahan hidup ini tidak hanya didesain untuk memenuhi kebutuhan
jangka pendek, tapi merefleksikan keinginan untuk membuat relasi
yang lebih lestari dengan orang dan lingkungan sekitar? Apakah
imajinasi ini bisa didorong untuk menciptakan solidaritas antar
manusia dan untuk kemaslahatan lingkungan yang kita tempati?
Bagaimana hal ini juga merefleksikan hal-hal yang menetap dan
berubah dari perkembangan ruang alternatif di Indonesia?
Ekosistem Infrastruktur Budaya Alternatif
Dalam menamai ruang budaya dan eksperimen yang dideskripsikan
di artikel ini sebagai praktik budaya independen, saya menggunakan
definisi ruang alternatif dari penelitian saya sebelumnya. Sebuah
ruang alternatif merujuk pada ruang-ruang budaya baru—kolektif
seniman, galeri, ruang pertunjukan, laboratorium budaya, ruang
diskusi, perpustakaan atau pusat arsip—bagi pemikiran-pemikiran
yang mungkin akan menjadi gelandangan dalam ruang budaya yang
dibentuk dan didesain oleh otoritas kebudayaan. Pembentukan
ruang budaya independen merupakan praktik khas generasi baru
aktivis budaya di Indonesia pasca 1998 sebagai model platform
untuk memenuhi gagasan visioner mereka. Pertumbuhan ruang
budaya independen tidak hanya berfungsi untuk menyediakan
beragam tanggapan yang kontekstual dan infrastruktur yang relevan
untuk memenuhi kebutuhan ruang seni dan budaya dalam konteks
lokal. Ia juga berfungsi sebagai situs yang mendorong kapasitas
3 Doreen Lee, Activist Archives: Youth Culture and the Political Past in Indonesia (Durham: Duke University
Press, 2016), hlm. 213.
Nuraini Juliastuti

