Page 323 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 323
302 ulisan ini ditujukan untuk menganalisa penciptaan
mekanisme untuk bertahan hidup dalam praktik seni
budaya, yang berkelindan dengan pengelolaan ruang.
T Sebagai studi kasus, saya menggunakan beragam
praktik untuk mencapai kemandirian yang dijalankan oleh
organisasi seni budaya independen dan kolektif seniman. Saya
mempresentasikannya sebagai eksperimen strategi bertahan hidup
Untuk dibaca bersama
mandiri dan cara untuk bertahan dalam beragam lintasan sejarah.
Dalam pembicaraan sehari-hari, membicarakan tentang perawatan
dalam wilayah seni budaya dianggap sama dengan memikirkan
tentang mekanisme untuk merawat gagasan, melangsungkan
regenerasi, sambil membangun jaringan yang potensial untuk masa
depan. Saya memakai konsep bertahan hidup untuk meluaskan
pembicaraan tentang sustainabilitas. Ia tidak terbatas pada
persoalan gagasan dan keterbatasan dana, tapi juga menyentuh soal
keseimbangan antara pekerjaan dan urusan pribadi. Ia terkait dengan
konsep perawatan yang multidimensional.
Pengamatan atas organisasi independen memperdalam wacana
tentang pembangunan strategi budaya jangka panjang dari bawah.
Sejarah pembangunan organisasi budaya independen menunjukkan
bahwa ia dianggap berfungsi sebagai “fixer,” atau perantara, yang
mengisi lubang-lubang kebutuhan komunitas lokal. Mengikuti Melani
1
Budianta, ia merefleksikan karakter emergency activism (aktivisme
darurat), yang diwariskan dari iklim politik periode pasca Reformasi
1998. Proposisi Budianta berguna untuk mengartikulasikan situasi
2
darurat sebagai kondisi yang melahirkan rekonfigurasi politik dan
mengarahkan praktik seni budaya baru ke tujuan-tujuan baru.
Semua studi kasus yang dianalisa di artikel ini berlangsung dalam
konteks yang berbeda dari pasca Reformasi 1998. Orang-orang yang
1 Nuraini Juliastuti, “A Conversation on Horizontal Organization,” dalam Afterall: A Journal of Art,
Context, and Enquiry: Vol. 30 (2012), hlm. 118-125.
2 Melani Budianta, “The Blessed Tragedy: The Making of Women’s Activism during the Reformasi
Years,” dalam Challenging Authoritarianism in Southeast Asia: Comparing Indonesia and Malaysia, ed.
Ariel Heryanto, Sumit K. Mandal (London and New York: Routledge Curzon, 2003), hlm. 145-178.
Seni Hidup: Praktik Eksperimen Strategi Pertahanan Hidup Mandiri dalam Ruang Seni Budaya Independen

