Page 325 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 325
304 pengorganisiran mandiri, kolektivisme dan institusionalisasi produksi
budaya. Sementara itu, kata “alternatif” berfungsi seperti horison bagi
beragam kemungkinan, kelenturan dan keterbukaan dalam praktik
budaya. Saya berargumentasi bahwa istilah “ruang alternatif” mampu
menangkap karakter ketidakdisiplinan yang terus menerus berusaha
ditumbuhkan di konteks lokal.
4
Untuk dibaca bersama
Ekosistem seni budaya lokal berkembang sangat cepat. Ruang
alternatif hanya satu bagian yang menghidupinya. Para seniman,
pendorong budaya, akademisi, aktivis gerakan sosial dan para pekerja
seni bergerak keluar masuk ruang yang berbeda karakter. Mereka
bersirkulasi di ruang alternatif, institusi bikinan negara, organisasi non-
pemerintah, organisasi seni internasional dan sekaligus putaran pasar
seni rupa komersial. Beberapa organisasi budaya independen juga
kadang-kadang berfungsi sebagai dan menjalin kerjasama erat dengan
organisasi non-pemerintah. Artikel ini tidak mempunyai banyak ruang
untuk membicarakan hal tersebut. Tetapi, mengikuti pendapat Chiara
de Cesari dalam penelitiannya tentang seni dan aktivisme di Palestina,
relasi antara organisasi budaya dan organisasi non-pemerintah
membuka ruang untuk mendiskusikan bagaimana pengorganisiran
budaya di akar rumput dalam konteks sejarah pascakolonial yang sulit
dan resah, tidak berarti menghapus kuasa negara. 5
Praktik budaya independen mempunyai karakteristik kapasitas
finansial yang relatif otonom. Sebagian dari mereka berdiri dengan
sumber daya finansial personal, yang digunakan untuk mendukung
operasionalisasi suatu organisasi. Sebagian yang lain berupaya
mengembangkan bisnis berbasis komunitas. Sebagian yang lain lagi
menggabungkan dana pribadi tersebut dengan skema bantuan dana
budaya yang dikelola oleh lembaga donor lokal dan internasional.
Pada periode awal 2000-an, ketersediaan dana dari lembaga donor
4 Nuraini Juliastuti, Commons People: Managing Music and Culture in Contemporary Yogyakarta (PhD
Dissertation, Leiden University, 2019), hlm. 23–27.
5 Chiara de Cesari, “Anticipatory Representation: Thinking Art and Museum as Resourceful Statecraft,”
dalam Reimagining the State: Theoretical Challenges and Transformative Possibilities, ed. Davina Cooper,
Nikita Dhawan dan Janet Newman (Oxon & New York: Routledge, 2020), hlm. 153-170.
Seni Hidup: Praktik Eksperimen Strategi Pertahanan Hidup Mandiri dalam Ruang Seni Budaya Independen

