Page 326 - Buku Mengeja FIXER 2021_Untuk dibaca bersama
P. 326
internasional berperan vital untuk membentuk “performativitas
pengetahuan dari ruang alternatif.” Hal itu mengindikasikan persoalan 305
6
minimnya dukungan dana untuk bidang seni dan budaya dari negara.
Perubahan lanskap ekosistem infrastruktur juga membawa keragaman
dalam struktur pendanaan. Pengorganisasian suatu inisiatif dan ruang
alternatif mungkin menggabungkan dana yang berasal dari praktik
filantropi kolektor karya seni, institusi negara dan pasar seni sekaligus.
Untuk dibaca bersama
Suatu inisiatif mungkin hanya punya satu sumber dana dari lembaga
donor asing dalam jumlah besar. Sementara suatu inisiatif yang lain
mungkin tetap tidak memiliki dukungan dana operasional secara tetap
meski sudah berjalan selama nyaris satu dekade.
Tulisan ini tidak menyediakan banyak ruang untuk mengulas secara
mendalam kebijakan negara tentang pendanaan seni budaya. Dalam
periode pandemik, tercatat ada beberapa program pendanaan yang
dikelola oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, seperti
Pemberian Layanan Perlindungan Pelaku Budaya Terdampak COVID-19
dan Penerimaan Penggiat Budaya. Meskipun demikian, faktor
kekurangan dana untuk inisiatif budaya masih terus dianggap sebagai
salah satu persoalan utama. Pola pendanaan yang seolah hanya
bergerak sesuai kondisi darurat ini mengindikasikan watak negara
yang selalu condong reaktif dan kurang mampu meletakkan kebutuhan
pendanaan pendidikan dan kebudayaan dalam perspektif jangka
panjang. Ia juga merefleksikan problem seputar pemerataan akses dan
skala kepentingan bagi pemegang otoritas kebijakan.
Produktivitas Informal dan Beragam Jenis Sumber Daya
Bagi para pegiat ruang alternatif, wacana pendanaan selalu hadir
dalam berbagai dimensi. Aktif dalam suatu organisasi independen
tidak selalu berarti mendapat gaji. Tapi, waktu yang dihabiskan
dalam mengorganisir budaya tidak selalu berarti sia-sia. Uang tidak
selalu menjadi alat tukar yang penting. Hal-hal tersebut memperumit
6 Nuraini Juliastuti, “Knowledge Performativity of Alternative Spaces,” paper dipresentasikan pada
simposium “Cultural Performance in Post-New Order Indonesia: New Structures, Scenes, Meanings,”
di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2010).
Nuraini Juliastuti

